Sabtu, 05 April 2014

YES OR NO PART 1 MOVIE

YES OR NO PART 1
SEBUAH FILM TENTANG KEHIDUPAN DAN JATI DIRI

                Dunia dengan segala kemurahan hatinya telah kita tempati selama ini. Tuhan juga sudah menciptakan kita dengan segala kuasa-Nya.

                Sawaddhi Khab. Sorry, kalo salah tulis ye? J Kali ini, saya mau bertukar informasi dan membagi ide pikiran saya tentang film Thailand YES OR NO yang saya nonton beberapa waktu lalu. Sekarang tanggal 4 April 2014. Dan begitu saya browsing-browsing di Google, ternyata film ini sudah booming dari tahun 2010. Kemana saja saya selama ini ya? Heheheee…. Dan gara-gara nonton film ini, saya kerajinan mengupdate info-info tentang Thailand.

                Apakah pengertian lesbian menurut anda? Mungkinkah ketika dua orang perempuan berjalan bersama-sama mereka adalah pasangan lesbian? Atau jika saat seorang wanita mencium wanita lainnya? Atau pemikiran anda hanya sebatas bahwa apabila seorang wanita menyampaikan rasa sukanya terhadap wanita lain? No matter what, you are what you are.

                Secara singkat diceritakan kehidupan pelajar puteri yang tinggal di asrama. Pada saat baru pertama nonton, saya berpikir akan banyak adegan romantis yang bisa saya ikuti nantinya untuk mendekati seorang cewek. Tapi begitu 10 menit durasinya berjalan, saya baru tahu kalau ini film tentang percintaan sesame jenis oleh dua orang perempuan. Bukannya risih, saya malah langsung menekan tombol “pause” dan mencari sinopsisnya dulu di internet. Akhirnya ketemulah dia.

                Singkat cerita, saya sudah menonton filmnya lagi. Dan memang, untuk seseorang seperti saya, saya beranggapan bahwa film YES OR NO ini sangat bagus dan temanya juga tidak mainstream. Bukan keluar dari jalur norma-norma sosial tapi lebih mengarah ke bagaimana cara menerima keadaan bahwa orang-orang yang menyukai sesama jenis kelamin itu ada dan terus bergaul juga di sekitar kita.
                Di Indonesia mungkin belum terlalu dan malahan akan dianggap tabu untuk membicarakan hal ini. Namun tidak dapat dipungkiri, film adalah salah satu upanya penyampaian pesan kepada masyarakat tentang apa yang terjadi di dunia saat ini. Tapi yang pasti, setelah menonton film ini, saya malah ingin punya juga teman atau kenalan dari Thailand. That sounds cool for me.

                Karakter-karakter dalam film ini juga keren-keren, ganteng dan cantik. Tidak ada aksi tarik-tarikan rambut seperti yang remaja-remaja puteri lakukan di film-film Indonesia kecuali pada saat Nerd, pemeran misterius menurut saya, datang dan memukul kepala teman sekamarnya, Jane yang hampir bunuh diri. Dan saya paling suka melihat ekspresi dan gesture pemeran wanitanya pada saat berbicara dan marah. Sama sekali tidak mengkerutkan wajah dan terbatas hanya kata-kata saja yang bernada tinggi. What a great ladies of Thailand.

Di lain waktu, saya setelah menonton film ini bertanya-tanya kepada teman yang mungkin pernah atau sudah menontonnya juga. Dan jawaban mereka variatif bagi yang sudah menontonnya.

                “Wahhh, kalau kita di Makassar sih tidak cocok kayaknya film begitu”
                “Pernah, sudah pernah, filmnya bagus kok” (Pendapat ini mungkin tidak ingin ditanya-tanya lagi lebih lanjut tentang filmnya)
                “ Iiiiiiihhhhh,….. geli aja lihat filmnya, masa cewek sama cewek ciuman?”
                “Filmnya jelek, menipu, gue kira ceritanya cewek sama cowok ternyata lesbong, capek deh”

                Dari berbagai cerita teman-teman dan pendapat mereka, saya bisa simpulkan, bahwa di Indonesia dengan gaya seperti ini pernah saya lihat juga di video klip Band THE VIRGIN. Tapi saya tidak mengklaim bahwa Band tersebut adalah pasangan yang menyukai sesama jenis. Saya cuma mengomentari dari segi alur cerita video klipnya. Dan jika ditonton film ini lebih dalam lagi, kita akan diiringi dengan instrumen-instrumen musik yang merdu dan soundtrack yang menarik untuk didengar sehingga menontonnya berulang-ulang kita tidak bosan. (menurut saya)

                Saya melihat ini bukan film rasis, ataupun SARA. Film YES OR NO ini hanyalah sebuah prolog untuk sebuah kehidupan sosial suatu Negara.

                Kutipan kata-kata yang menarik bagi saya dalam film YES OR NO ini adalah
                “…Jika kita mencintai seseorang, kita akan merasakan seperti ada ratusan kupu-kupu yang beterbangan dalam perut kita” Bagi orang Thailand, mungkin kupu-kupu memang disimbolkan sebagi lambang cinta.

                Kemudian, saya browsing lebih lanjut lagi. Wahh, ternyata sudah ada part tiga-nya juga film ini. Berarti filmnya benar-benar laris. Di Indonesia mungkin setelah menontonnya orang-orang akan berpendapat kok bisa-bisanya ada film dengan cerita seperti itu? Namun kita secara tidak langsung tidak menyadari bahwa sumbangsih kita dengan menonton, membeli, meminjam menceritakan, mentweet dan memposting tentang film itu memberikan pengaruh positif bagi Rumah Produksi di Thailand untuk lebih kreatif lagi.

                Saya bukan seorang motivator tapi bolehlah kiranya kita membuka pikiran sedikit bahwa diantara kemajemukan kita, ada yang namanya berbudaya. Dan setiap orang, suku, Negara, budayanya berbeda-beda pula. Janganlah kita langsung memvonis sesuatu yang negatif pada seseorang atau dua orang yang mempunyai kehidupan seperti yang ada dalam film ini. Takdir itu memang untuk dijalani dan kita tidak bisa menentukan apakah manusia itu berdosa atau tidak. Biarlah Tuhan yang akan mengadili atas apa yang telah kita lakukan di dunia nantinya. Kita sebagai manusia ada kalanya berpikir menggunakan hati lebih manusiawi dari pada menggunakan logika.

                Namun konflik tetap saja akan terjadi. Resiko bukanlah akhir dari segalanya pada menjalin hubungan sesama wanita dari film ini namun lebih mengarah ke pertempuran psikologis dan idealism untuk sebuah pembuktian. Karena sampai kapan kita akan bertahan menyimpan sesuatu?

                Seperti yang saya kutip dari salah satu adegan ketika Tante dari cewek tomboy dalam film ini berkata “ Ada perempuan yang berdandan seperti layaknya wanita biasanya namun dia adalah seorang lesbian…” Dari situ saya beranggapan bahwa memang peribahasa Indonesia yang bilang “Jangan mengukur baju di badan sendiri” sangat berperan. Namun di Thailand, walaupun pasangan sesama wanita itu bukan hal yang asing lagi, namun tetap saja akan berbuah perdebatan bagi sebuah keluarga yang belum pernah mengalaminya.

                Film ini sama sekali bukan adegan provokatif untuk diikuti. Namun juga lebih kepada mempromosikan Negara asal film ini tentang kebudayaan mereka disana. Dan yang lebih menarik disini, saya menemukan bahwa ternyata Bahasa Thailand itu sangat halus dan berirama. Menarik untuk diikuti dan dipelajari. Satu hal untuk diingat, jika kita terus merasa takut akan sesuatu, lalu kapan kita akan berani ?

                Dan setelah membaca sinopsis atau mengetahui alur filmnya bahkan telah menonton filmnya, kesimpulan akhir akan tetap ada pada orang yang telah menontonnya. Apakah anda merasa malu? Takut? Atau malah membenci wanita yang menyukai wanita?


                Terima kasih sudah singgah di blog ini. Senang bisa berbagi, dan salam hangat untuk teman-teman sesama penggemar film dari Makassar, untuk semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar