YES OR NO PART 1
SEBUAH FILM TENTANG KEHIDUPAN DAN JATI DIRI
Dunia dengan segala kemurahan
hatinya telah kita tempati selama ini. Tuhan juga sudah menciptakan kita dengan
segala kuasa-Nya.
Sawaddhi Khab. Sorry, kalo salah tulis ye? J Kali ini, saya mau bertukar
informasi dan membagi ide pikiran saya tentang film Thailand YES OR NO yang saya nonton beberapa
waktu lalu. Sekarang tanggal 4 April 2014. Dan begitu saya browsing-browsing di
Google, ternyata film ini sudah booming dari tahun 2010. Kemana saja saya
selama ini ya? Heheheee…. Dan gara-gara nonton film ini, saya kerajinan
mengupdate info-info tentang Thailand.
Apakah pengertian lesbian
menurut anda? Mungkinkah ketika dua orang perempuan berjalan bersama-sama
mereka adalah pasangan lesbian? Atau jika saat seorang wanita mencium wanita
lainnya? Atau pemikiran anda hanya sebatas bahwa apabila seorang wanita
menyampaikan rasa sukanya terhadap wanita lain? No matter what, you are what you are.
Secara singkat diceritakan
kehidupan pelajar puteri yang tinggal di asrama. Pada saat baru pertama nonton,
saya berpikir akan banyak adegan romantis yang bisa saya ikuti nantinya untuk
mendekati seorang cewek. Tapi begitu 10 menit durasinya berjalan, saya baru
tahu kalau ini film tentang percintaan sesame jenis oleh dua orang perempuan.
Bukannya risih, saya malah langsung menekan tombol “pause” dan mencari
sinopsisnya dulu di internet. Akhirnya ketemulah dia.
Singkat cerita, saya sudah
menonton filmnya lagi. Dan memang, untuk seseorang seperti saya, saya
beranggapan bahwa film YES OR NO ini
sangat bagus dan temanya juga tidak mainstream. Bukan keluar dari jalur norma-norma
sosial tapi lebih mengarah ke bagaimana cara menerima keadaan bahwa orang-orang
yang menyukai sesama jenis kelamin itu ada dan terus bergaul juga di sekitar
kita.
Di Indonesia mungkin belum
terlalu dan malahan akan dianggap tabu untuk membicarakan hal ini. Namun tidak
dapat dipungkiri, film adalah salah satu upanya penyampaian pesan kepada
masyarakat tentang apa yang terjadi di dunia saat ini. Tapi yang pasti, setelah
menonton film ini, saya malah ingin punya juga teman atau kenalan dari
Thailand. That sounds cool for me.
Karakter-karakter dalam film ini
juga keren-keren, ganteng dan cantik. Tidak ada aksi tarik-tarikan rambut
seperti yang remaja-remaja puteri lakukan di film-film Indonesia kecuali pada
saat Nerd, pemeran misterius menurut saya, datang dan memukul kepala teman
sekamarnya, Jane yang hampir bunuh diri. Dan saya paling suka melihat ekspresi
dan gesture pemeran wanitanya pada saat berbicara dan marah. Sama sekali tidak
mengkerutkan wajah dan terbatas hanya kata-kata saja yang bernada tinggi. What a great ladies of Thailand.
Di lain waktu, saya setelah menonton film ini bertanya-tanya kepada teman
yang mungkin pernah atau sudah menontonnya juga. Dan jawaban mereka variatif
bagi yang sudah menontonnya.
“Wahhh, kalau kita di Makassar sih tidak cocok kayaknya film begitu”
“Pernah, sudah pernah, filmnya bagus kok” (Pendapat ini mungkin
tidak ingin ditanya-tanya lagi lebih lanjut tentang filmnya)
“ Iiiiiiihhhhh,….. geli aja lihat filmnya, masa cewek sama cewek
ciuman?”
“Filmnya
jelek, menipu, gue kira ceritanya cewek sama cowok ternyata lesbong, capek deh”
Dari berbagai cerita teman-teman
dan pendapat mereka, saya bisa simpulkan, bahwa di Indonesia dengan gaya
seperti ini pernah saya lihat juga di video klip Band THE VIRGIN. Tapi saya
tidak mengklaim bahwa Band tersebut adalah pasangan yang menyukai sesama jenis.
Saya cuma mengomentari dari segi alur cerita video klipnya. Dan jika ditonton
film ini lebih dalam lagi, kita akan diiringi dengan instrumen-instrumen musik yang
merdu dan soundtrack yang menarik untuk didengar sehingga menontonnya
berulang-ulang kita tidak bosan. (menurut saya)
Saya melihat ini bukan film
rasis, ataupun SARA. Film YES OR NO ini
hanyalah sebuah prolog untuk sebuah kehidupan sosial suatu Negara.
Kutipan kata-kata yang menarik
bagi saya dalam film YES OR NO ini adalah
“…Jika kita mencintai seseorang, kita akan merasakan seperti ada
ratusan kupu-kupu yang beterbangan dalam perut kita” Bagi orang Thailand,
mungkin kupu-kupu memang disimbolkan sebagi lambang cinta.
Kemudian, saya browsing lebih
lanjut lagi. Wahh, ternyata sudah ada part tiga-nya juga film ini. Berarti
filmnya benar-benar laris. Di Indonesia mungkin setelah menontonnya orang-orang
akan berpendapat kok bisa-bisanya ada film dengan cerita seperti itu? Namun
kita secara tidak langsung tidak menyadari bahwa sumbangsih kita dengan
menonton, membeli, meminjam menceritakan, mentweet dan memposting tentang film
itu memberikan pengaruh positif bagi Rumah Produksi di Thailand untuk lebih
kreatif lagi.
Saya bukan seorang motivator
tapi bolehlah kiranya kita membuka pikiran sedikit bahwa diantara kemajemukan
kita, ada yang namanya berbudaya. Dan setiap orang, suku, Negara, budayanya
berbeda-beda pula. Janganlah kita langsung memvonis sesuatu yang negatif pada
seseorang atau dua orang yang mempunyai kehidupan seperti yang ada dalam film
ini. Takdir itu memang untuk dijalani dan kita tidak bisa menentukan apakah
manusia itu berdosa atau tidak. Biarlah Tuhan yang akan mengadili atas apa yang
telah kita lakukan di dunia nantinya. Kita sebagai manusia ada kalanya berpikir
menggunakan hati lebih manusiawi dari pada menggunakan logika.
Namun konflik tetap saja akan
terjadi. Resiko bukanlah akhir dari segalanya pada menjalin hubungan sesama
wanita dari film ini namun lebih mengarah ke pertempuran psikologis dan idealism
untuk sebuah pembuktian. Karena sampai kapan kita akan bertahan menyimpan
sesuatu?
Seperti yang saya kutip dari
salah satu adegan ketika Tante dari cewek tomboy dalam film ini berkata “ Ada perempuan yang berdandan seperti
layaknya wanita biasanya namun dia adalah seorang lesbian…” Dari situ saya
beranggapan bahwa memang peribahasa Indonesia yang bilang “Jangan mengukur baju
di badan sendiri” sangat berperan. Namun di Thailand, walaupun pasangan sesama
wanita itu bukan hal yang asing lagi, namun tetap saja akan berbuah perdebatan
bagi sebuah keluarga yang belum pernah mengalaminya.
Film ini sama sekali bukan
adegan provokatif untuk diikuti. Namun juga lebih kepada mempromosikan Negara asal
film ini tentang kebudayaan mereka disana. Dan yang lebih menarik disini, saya
menemukan bahwa ternyata Bahasa Thailand itu sangat halus dan berirama. Menarik
untuk diikuti dan dipelajari. Satu hal untuk diingat, jika kita terus merasa
takut akan sesuatu, lalu kapan kita akan berani ?
Dan setelah membaca sinopsis atau
mengetahui alur filmnya bahkan telah menonton filmnya, kesimpulan akhir akan
tetap ada pada orang yang telah menontonnya. Apakah anda merasa malu? Takut? Atau
malah membenci wanita yang menyukai wanita?
Terima kasih sudah singgah di
blog ini. Senang bisa berbagi, dan salam hangat untuk teman-teman sesama penggemar
film dari Makassar, untuk semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar