Ini sebenarnya gabungan kata yang gue rangkai pas gue lagi kehabisan uang jajan.
Maksud gue disini, keuangan gue menipis. Sebenarnya gak habis total sih memang, cuma sudah berkurang aja.
Sementara gue baru gajian dua bulan lagi. Maklumlah namanya juga guru honor. Dibayarnya tiga bulan sekali yang jauh di bawah UMP dari Dana BOS.
Maksud gue disini, keuangan gue menipis. Sebenarnya gak habis total sih memang, cuma sudah berkurang aja.
Sementara gue baru gajian dua bulan lagi. Maklumlah namanya juga guru honor. Dibayarnya tiga bulan sekali yang jauh di bawah UMP dari Dana BOS.
Gue memilih nama coffee disaster karena waktu itu, vitamin C dan multivitamin gue yang biasanya gue minum untuk begadang habis.
Dan salah satu cara untuk mengobati caffeine addict gue yaitu dengan minum kopi. Jadi, gue munculkanlah nama coffee disaster dalam otak gue yang memang sesuai namanya, berawal dari sebuah "musibah" kecil itu tadi.
Dan akhirnya gue kembangkan coffee disaster ini menjadi sebuah forum diskusi dengan teman-teman yang mau bertukar informasi akurat dengan gue. Dan bukan ajang untuk membicarakan hal-hal bullshit.
Dan salah satu cara untuk mengobati caffeine addict gue yaitu dengan minum kopi. Jadi, gue munculkanlah nama coffee disaster dalam otak gue yang memang sesuai namanya, berawal dari sebuah "musibah" kecil itu tadi.
Dan akhirnya gue kembangkan coffee disaster ini menjadi sebuah forum diskusi dengan teman-teman yang mau bertukar informasi akurat dengan gue. Dan bukan ajang untuk membicarakan hal-hal bullshit.
Keseharian gue, gue paling suka ngasi motivasi aliran kiri.
Menantang kata-kata Mario Teguh secara konotasi karena gue yakin gue bisa membuat sebuah perobahan dengan kemampuan gue ketika dunia sudah mengenal gue.
Untuk sekarang sih masih tahap pengenalan aja sama orang-orang.
Dan politik buat gue itu seperti agama. Seberapa jauhpun kita menghindar, pasti tetap akan dilaksanakan juga kan syariatnya.
Menantang kata-kata Mario Teguh secara konotasi karena gue yakin gue bisa membuat sebuah perobahan dengan kemampuan gue ketika dunia sudah mengenal gue.
Untuk sekarang sih masih tahap pengenalan aja sama orang-orang.
Dan politik buat gue itu seperti agama. Seberapa jauhpun kita menghindar, pasti tetap akan dilaksanakan juga kan syariatnya.
Gue masih ingat, nenek gue selalu bilang waktu masih kecil, SD. Kalau malam-malam ada kupu-kupu masuk rumah, berarti akan ada tamu.
Dan gue biasanya berharap bisa melihat tamu itu sampai akhirnya gue tertidur di kursi tamu.
Dan gue biasanya berharap bisa melihat tamu itu sampai akhirnya gue tertidur di kursi tamu.
Masih segar juga diingatan gue, kalau pas menjelang malam antara pukul 6 sore, jangan keluar rumah lagi nanti disembunyiin setan.
Dan jika pemikiran seperti itu masih akan kita terapkan kepada anak cucu kita nantinya ketika kita sudah tahu jawaban sebenarnya berbanding terbalik dengan pernyataannya, apa bedanya kita di masa lalu dengan anak cucu kita di masa akan datang?
Sama sekali tidak akan ada perobahan paradigma dalam otak mereka.
Kebanyakan orang-orang menuliskan curhatnya pada saat galau saja. Buat gue, tiap hari adalah sebuah pemberontakan buat gue. Dan prinsip "Jadikan hari esok lebih baik dari hari ini" sama sekali gak mempan buat gue. Tanya kenapa?
Gue selalu bertanya, sajauh mana efektifitas Plan B dan Plan C jika Plan A gagal?
Padahal seharusnya yang ada cuma ide dari Plan A yang harusnya diulang lagi untuk dilakukan pada saat melaksanakan Plan B dan C.
Jadi intinya, ide tetap sama. Dan gue adalah sutradara hidup gue. Bukan orang lain. Dan melakukan perobahan itu akan terasa susah sampai ada orang lain yang merasakan efeknya.
Padahal seharusnya yang ada cuma ide dari Plan A yang harusnya diulang lagi untuk dilakukan pada saat melaksanakan Plan B dan C.
Jadi intinya, ide tetap sama. Dan gue adalah sutradara hidup gue. Bukan orang lain. Dan melakukan perobahan itu akan terasa susah sampai ada orang lain yang merasakan efeknya.
Gue sudah empat tahun jadi guru honorer di sebuah SMP.
Gue juga cuma ngajarnya tiap hari senin dan sabtu. Hari-hari lainnya, gue gunakan untuk membuat orang lain yang kenal sama gue jadi mencari-cari gue.
Jadi, anggap aja gue cuma muncul delapan kali dalam sebulan di dunia nyata. Dan gue rasa, itu adalah manuver gue untuk lebih dikenal lagi.
The more you don't see me, the more you miss me.
Gue juga cuma ngajarnya tiap hari senin dan sabtu. Hari-hari lainnya, gue gunakan untuk membuat orang lain yang kenal sama gue jadi mencari-cari gue.
Jadi, anggap aja gue cuma muncul delapan kali dalam sebulan di dunia nyata. Dan gue rasa, itu adalah manuver gue untuk lebih dikenal lagi.
The more you don't see me, the more you miss me.
Almost famous. Menurut asumsi gue, 2 tahun lagi gue akan lebih dari sekarang. Dari segi berpikir, kecerdasan dan keberadaan gue di bumi. I am what I am, you are what you are. But I am not selfish or prove my egoism.
Merdeka atau mati. Kata-kata itu ngaruh banget tapi penciptanya siapa? Sampai saat ini tidak ada yang bisa membuktikan. Merdeka itu adalah ketika lu melakukan sesuatu tanpa ada halangan dari orang lain. Dan mati adalah ketika lu sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Di Indonesia sekarang, yang ada hanya orang mati yang bisa berjalan walaupun bukan dalam bentuk mayat. Tanya kenapa?
Idealisme semakin tersamarkan, orang-orang lebih mengutamakan asumsi dari pada logika dan sama sekali pemikiran visioner mereka sudah tidak digunakan.
Malahan diganti dengan pemikiran yang "overthinking".
Idealisme semakin tersamarkan, orang-orang lebih mengutamakan asumsi dari pada logika dan sama sekali pemikiran visioner mereka sudah tidak digunakan.
Malahan diganti dengan pemikiran yang "overthinking".
Gue paling gak suka bertanya.
Gue biasanya nyari tahu dulu dan ketika gue rasa masih kurang, gue gak akan bertanya sampai akhirnya nanti gue mau untuk mencari jawabannya.
Gue biasanya nyari tahu dulu dan ketika gue rasa masih kurang, gue gak akan bertanya sampai akhirnya nanti gue mau untuk mencari jawabannya.
Sudah saatnya kita berubah; pemikiran, perilaku dan pola pikir. Open your mind.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar