Selasa, 01 April 2014

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)

 

MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INGGRIS
DENGAN METODE PEMBELAJARAN DISCOVERY PADA SISWA KELAS 7.2 
DI SMP NEGERI 3 BAJO
KECAMATAN BAJO KABUPATEN LUWU
TAHUN PELAJARAN 2013/2014


OLEH:
AKSAN NUGROHO, S. Pd







DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
SMP NEGERI 3 BAJO
KECAMATAN BAJO, KABUPATEN LUWU









PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar BAHASA INGGRIS dengan Metode Pembelajaran Discovery Pada Siswa Kelas VII.2 di SMP NEGERI 3 Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu.

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Sistem pendidikan di Indonesia ternyata telah mengalami banyak perubahan. Perubahan-perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan dalam pendidikan. Akibat pengaruh itu, pendidikan semakin mengalami kemajuan.

Sejalan dengan kemajuan tersebut, maka dewasa ini pendidikan di sekolah-sekolah telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan itupun terjadi karena terdorong adanya pembaharuan tersebut, sehingga di dalam pengajaran guru selalu ingin menemukan metode dan peralatan baru yang dapat memberikan semangat belajar bagi semua siswa. Bahkan secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa pembaharuan dalam sistem pendidikan yang mencakup seluruh komponen yang ada. Pembangunan di bidang pendidikan barulah ada artinya apabila dalam pendidikan dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bangsa Indonesia yang sedang membangun.

Pada hakekatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran. Guru sebagai salah satu komponen dalam proses belajar menganjar merupakan pemegang peran yang sangat penting. Guru bukan hanya sekadar penyampai materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan sebagai sentral pembelajaran.

Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses belajar mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebeh efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut.

Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan dan rnembangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Depdikbud (1999)

Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor di antaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat memengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik dan mampu memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan.

Untuk itu diperlukan suatu upaya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran salah satunya adalah dengan memilih strategi atau cara dalam menyampaikan materi pelajaran agar diperoleh peningkatan prestasi belajar siswa khususnya pelajaran BAHASA INGGRIS. Misalnya dengan membimbing siswa untuk bersama-sama terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan mampu membantu siswa berkembang sesuai dengan taraf intelektualnya akan lebih menguatkan pemahaman siswa terhadap konsep - konsep yang diajarkan.

Pemahaman ini memerlukan minat dan motivasi. Tanpa adanya minat menandakan bahwa siswa tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Untuk itu, guru harus memberikan suntikan dalam bentuk motivasi sehingga dengan bantuan itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar. Sehingga nilai rata-rata mata pelajaran BAHASA INGGRIS yang diharapkan oleh guru adalah 90, 00.

Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, kegagalan dalam belajar rata-rata dihadapi oleh sejumlah siswa yang tidak memiliki dorongan belajar. Sehingga nilai rata-rata mata pelajaran BAHASA INGGRIS sangat rendah yaitu mencapai 50, 00. Hal ini disebabkan karena guru dalam proses belajar mengajar hanya menggunakan metode ceramah, tanpa menggunakan alat peraga, dan materi pelajaran tidak disampaikan secara kronologis.

Untuk itu dibutuhkan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan upaya membangkitkan motivasi belajar siswa, misalnya dengan membimbing siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan yang melibatkan siswa serta guru yang berperan sebagai pembimbing untuk menemukan konsep BAHASA INGGRIS.

Motivasi tidak hanya menjadikan siswa terlibat dalam kegiatan akademik, motivasi juga penting dalam menentukan seberapa jauh siswa akan belajar dari suatu kegiatan pembelajaran atau seberapa jauh menyerap informasi yang disajikan kepada mereka. Siswa yang termotivasi untuk belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik. Tugas penting guru adalah merencanakan bagaimana guru mendukung motivasi siswa (Nur, 2001 : 3). Untuk itu sebagai seorang guru disamping menguasai materi, juga diharapkan dapat menetapkan dan melaksanakan penyajian materi yang sesuai kemampuan dan kesiapan anak, sehingga menghasilkan penguasaan materi yang optimal bagi siswa.

Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis mencoba menerapkan salah satu metode pembelajaran, yaitu metode pembelajaran penemuan (discovery) untuk mengungkapkan apakah dengan model penemuan (discovery) dapat meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar BAHASA INGGRIS. Penulis memilih metode pembelajaran ini mengkondisikan siswa untuk terbiasa menemukan, mencari, mendikusikan sesuatu yang berkaitan dengan pengajaran. (Siadari, 2001: 4). Dalam metode pembelajaran penemuan (discovery) siswa lebih aktif dalam memecahkan untuk menemukan sedangkan guru berperan sebagai pembimbing atau memberikan petunjuk cara memecahkan masalah itu.

Dari latar belakang tersebut di atas maka penulis dalam penelitian ini mengambil judul " Meningkatkan Motivasi Dan Prestasi Belajar BAHASA INGGRIS dengan Metode Pembelajaran Discovery Pada Siswa Kelas VII.2 Di SMP NEGERI 3 Kecamatan Bajo Kabupaten Luwu Tahun Pelajaran 2013/2014".


B.    RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut:
  1. Bagaimanakah pengaruh metode pembelajaran discovery terhadap motivasi belajar siswa mata pelajaran BAHASA INGGRIS pada siswa kelas VII.2 di SMP NEGERI 3 Kecamatan Bajo Kabupaten Luwu, Tahun pelajaran 2013/2014?
  2. Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar siswa dengan diterapkannya pembelajaran discovery mata pelajaran BAHASA INGGRIS pada siswa kelas VII.2 di SMP NEGERI 3 di Kecamatan Bajo Kabupaten Luwu Tahun pelajaran 2013/2014?

C.    TUJUAN PENELITIAN

Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
  1. Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran discovery mata pelajaran BAHASA INGGRIS pada siswa kelas VII.2 di SMP NEGERI 3 di Kecamatan Bajo Kabupaten Luwu Tahun pelajaran 2013/2014.
  2. Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran discovery mata pelajaran BAHASA INGGRIS pada siswa kelas VII.2 di SMP NEGERI 3 di Kecamatan Bajo Kabupaten Luwu Tahun pelajaran 2013/2014.
D.    MANFAAT PENELITIAN
Penulis mengharapkan dengan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1.       Guru
Memberikan informasi tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan materi BAHASA INGGRIS.
2.       Siswa
Meningkatkan motivasi dan prestasi pada mata pelajaran BAHASA INGGRIS.
3.       Sekolah
Memberikan masukan bagi pihak sekolah sebagai pedoman untuk mengambil kebijakan di sekolah .

E.    HIPOTESIS TINDAKAN
Hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
  1. Penerapan pembelajaran discovery dapat meningkatkan motivasi belajar mata pelajaran BAHASA INGGRIS pada siswa kelas VII.2 di SMP NEGERI 3 di Kecamatan Bajo Kabupaten Luwu Tahun pelajaran 2013/2014.

  1. Penerapan pembelajaran discovery dapat meningkatkan prestasi belajar siswa mata pelajaran BAHASA INGGRIS pada siswa kelas VII.2 di SMP NEGERI 3 di Kecamatan Bajo Kabupaten Luwu Tahun pelajaran 2013/2014.

F.    RUANG LINGKUP PENELITIAN
Ruang lingkup dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
  1. Permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah masalah peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa.
  2. Penelitian tindakan kelas ini dikenakan pada siswa kelas VII.2
  3. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di pelajaran BAHASA INGGRIS pada siswa kelas VII.2 di SMP NEGERI 3 BAJO.
  4. Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2013/2014.
  5. Penelitian tindakan kelas ini dibatasi pada kompetensi dasar menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan sebuah bentuk waktu kalimat, masa sekarang, lampau dan akan datang.

G.    DEFINISI OPERASIONAL
Variabel agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini, maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut:

1.                           Metode pembelajaran penemuan (discovery) adalah: Suatu cara mengajar yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri agar anak dapat belajar sendiri.

2.                           Motivasi belajar adalah: Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.

3.                           Prestasi belajar adalah: Hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, setelah siswa mengikuti pelajaran.
H. KAJIAN PUSTAKA

A. Metode Pembelajaran Penemuan (Discovery)

Teknik penemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut Sund, discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksudkan dengan proses mental tersebut antara lain ialah: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, manbuat dugaan, menjelaskan, mengukur membuat kesimpulan dan sebagainya. Suatu konsep misalnya: puisi, sajak, Gaya bahasa dan sebagainya, sedang yang dimaksud dengan prinsip antara lain ialah: Matahari sudah beranjak dari peraduannya. Dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri   atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi.

Dr. J. Richard dan asistennya mencoba self-learning siswa (belajar sendiri) itu, sehingga situasi belajar mengajar berpindah dari situasi teacher learning menjadi situasi student dominated learning. Dengan menggunakan discovery learning, ialah suatu cara mengajar yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri agar anak dapat belajar sendiri.

Pada penggunaan teknik discovery ini guru berusaha meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. Maka, teknik ini memiliki keuntungan sebagai berikut:
  • Teknik ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif/pengenalan siswa.
  • Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi individual sehingga dapat kokoh/mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut. Dapat membangkitkan kegairahan belajar mengajar para siswa.
  • Teknik ini mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang dan maju sesuai dengankernampuannya masing-masing.
  • Mampu mengarahkan cara siswa belajar, sehingga lebih memiliki motivasi yang kuat untuk belajar lebih giat. 
  • Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri.
Strategi itu berpusat pada siswa tidak pada guru. Guru hanya sebagai teman belajar saja, membantu bila diperlukan.

Walaupun demikian baiknya teknik ini, masih ada pula kelemahan yang perlu diperhatikan, ialah:
  • Pada siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental untuk cara belajar ini. Siswa harus berani dan berkeinginan untuk mengetahui keadaan sekitarnya dengan baik.
  • Bila kelas terlalu besar penggunaan teknik ini akan kurang berhasil.
  • Bagi guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencaan dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan teknik penemuan.
  • Dengan teknik ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini terlalu mementingkan proses pengertian saja, kurang memperhatikan perkembangan/pembentukan sikap dan keterampilan bagi siswa.
  • Teknik ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk berpikir secara kreatif.
B. Motivasi Belajar

Pengertian Motivasi
Motivasi adalah daya nalar diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan-kesiapan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Sedangkan prestasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman, 2000: 28).

Sedangkan menurut Djamarah (2002: 114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang termotivasi dalam belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik.
Jadi motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
Beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi antara lain:
  1. Kompetisi (persaingan): guru berusaha menciptakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain.
  2. Pace Making (membuat tujuan sementara atau dekat): Pada awal kegiatan belajar mengajar guru, hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa TPK yang akan dicapai sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TPK tersebut.
  3. Tujuan yang jelas: Motif mendorong individu untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan, makin besar ni]ai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi dalam melakuakan sesuatu perbuatan.
  4. Kesempurnaan untuk sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas, kesenangan dan kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk meraih sukses dengan usaha mandiri, tentu saja dengan bimbingan guru.
  5. Minat yang besar: Motif akan timbul jika individu memiliki minat yang besar.
  6. Mengadakan penilaian atau tes. Pada umumnya semua siswa mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam kenyataan bawa banyak siswa yang tidak belajar bila tidak ada ulangan. Akan tetapi, bila guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan lisan, barulah siswa giat belajar dengan menghafal agar ia mendapat nilai yang baik. Jadi, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat bagi siswa.

I.    METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bersifat reflektif, partisipatif, kolaboratif, dan spiral, bertujuan untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, dan kompetensi atau situasi pembelajaran. 





B.    Kehadiran Peneliti

Pada penelitian ini, guru sebagai peneliti dan merencanakan kegiatan berikut:
  1. Menyusun angket untuk pembelajaran dan menyusun rencana program pembelajaran
  2. Mengumpulkan data dengan cara mengamati kegiatan pembelajaran
  3. Melaksanakan rencana program pembelajaran yang telah dibuat 
  4. Melaporkan hasil penelitian
C.   Lokasi Penelitian
Yang menjadi objek dan tempat Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas 7.2 di SMP NEGERI 3 BAJO KABUPATEN LUWU
                Adapun alasan pemilihan tempat ini adalah; SMP Negeri 3 Bajo merupakan sekolah induk mengajar penulis.

D.    Data dan sumber
  1. Data dalam penelitian ini adalah kemampuan berfikir siswa yang diperoleh dengan mengamati munculnya pertanyaan dan jawaban yang muncul selama pembelajaran berlangsung.
  2. Sumber data penelitian adalah siswa kelas VII sebagai obyek penelitian.

E.    Prosedur pengumpulan data
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik sebagai berikut :

1.        Wawancara
Teknik ini dilakukan observer kepada guru dan siswa untuk menentukan tindakan. Wawancara dilakukan untuk mengetahui kondisi awal siswa.
2.        Angket
Angket merupakan data penunjang yang digunakan untuk mengumpulkan informasi terkait dengan respon atau tanggapan siswa terhadap penerapan pembelajaran discovery.

3.        Observasi
Observasi dilaksanakan untuk memperoleh data kemampuan berpikir siswa yang terdiri dari beberapa deskriptor yang ada selama pembelajaran berlangsung.
4.        Test
Test dilaksanakan setiap akhir siklus, hal ini dimaksudkan untuk mengukur hasil yang diperoleh siswa setelah pemberian tindakan.
5.        Catatan lapangan
Catatan lapangan digunakan sebagai pelengkap data penelitian sehingga diharapkan semua data yang tidak termasuk dalam observasi dapat dikumpulkan pada penelitian ini.

F.    Analisis data

1.    Kemampuan Berpikir
Untuk mengetahui kelanjutan dari penelitian ini, maka diadakan pengisian rubrik untuk mengetahui kemampuan berpikir siswa setelah pemberian tes.

Adapun formula untuk mencari skor klasikal kemampuan bertanya siswa adalah sebagai berikut:

Skor riil    X    4                                       Ex.          75           X 4          =
Skor maks                                                           100

Keterangan:
Skor riil                 : skor total yang diperoleh siswa
Skor maksimal   : Skor total yang seharusnya diperoleh siswa

4              : Skor maksimal dari tiap jawaban.


2.    Hasil Belajar

Adapun cara mengetahui hasil ketuntasan belajar siswa adalah sebagai berikut:
1.       Secara individu, siswa dianggap telah belajar tuntas apabila daya serapnya mencapai 65 %.
2.       Secara kelompok dianggap tuntas jika telah belajar apabila mencapai 85 % dari jumlah siswa yang mencapai daya serap minimal 65 %.



G.    Tahap-tahap penelitian
Adapun yang menjadi tahapan-tahapan penelitian ini adalah:
-          Berdasarkan observasi awal, proses pembelajaran yang dilakukan adalah model pembelajaran discovery.
-          Penelitian ini akan dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, refleksi.

PROSES PENELITIAN
SIKLUS I
1.           Perencanaan (Planning)
Adapun kegiatan pada tahap ini adalah:
  • Menyusun RPP dengan model pembelajaran yang direncanakan dalam PTK.
  • Merancang lembar kerja siswa sesuai dengan indikator pembelajaran yang ingin dicapai.
  • Membuat soal tes yang akan diadakan untuk mengetahui hasil pembelajaran siswa.
  • Membentuk kelompok heterogen.
  • Memberikan penjelasan pada siswa mengenai teknik pelaksanaan model pembelajaran yang akan dilaksanakan.

2.           Pelaksanaan Tindakan (Action)
Pada tahapan ini, rancangan pelaksanaannya adalah:
  • Pengajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Adapun langkah – langkah yang dilakukan adalah (disesuaikan dengan skenario pembelajaran)
  • Kegiatan penutup

3.       Observasi
a.       Melakukan diskusi dengan guru SMPN 3 Bajo dan Kepala Sekolah untuk rencana observasi.
b.      Menyimpulkan hasil pengamatan terhadap penerapan pengajaran model pembelajaran Discovery.
c.       Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran discovery.
d.      Melakukan diskusi dengan guru satu rombel.

4.       Refleksi
a.       Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi.
b.      Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran discovery dan mempertimbangkan langkah selanjutnya.
c.       Melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran discovery.
d.      Melakukan refleksi terhadap kreativitas peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
e.      Melakukan refleksi terhadap hasil belajar peserta didik.


SIKLUS II

Tahap Perencanaan (Planning), mencakup:
1.       Mengevaluasi hasil refleksi, mendiskusikan, dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran berikutnya.
2.       Mendata masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran.
3.       Merancang perbaikan berdasarkan refleksi siklus 1.

Tahap Melakukan Tindakan (Action), mencakup:
1.       Melakukan analisis pemecahan masalah.
2.       Melaksanakan tindakan perbaikan dengan menggunakan penerapan model pembelajaran discovery.
Tahap Mengamati (observation), mencakup:

1.       Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran Discovery.
2.       Mencatat perubahan yang terjadi.
3.       Melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan respon timbal balik.
Tahap Refleksi (Reflection), mencakup:
1.       Merefleksikan proses pembelajaran Discovery.
2.       Merefleksikan hasil belajar peserta didik dengan penerapan model pembelajaran Discovery.
3.       Menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian.
4.       Menyusun rekomendasi.


Dari tahap kegiatan pada siklus 1 dan 2, hasil yang diharapkan adalah:

1.       Peserta didik memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris
2.       Guru memiliki kemampuan merancang dan menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok khusus pada mata pelajaran Bahasa Inggris
3.       Peningkatan prestasi peserta didik pada mata pelajaran Bahasa Inggris.

ANALISIS DATA
Untuk lebih menjamin keakuratan data, pada penelitian ini dilakukan perekaman data dalam video dan photo selama kegiatan penelitian berlangsung.

JADWAL PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2013/2014, antara bulan Agustus sampai dengan bulan Januari 2014 dan rencana berlangsung selama 6 bulan secara berkesinambungan. Dengan agenda kegiatan sebagai berikut:
NO

TANGGAL PERTEMUAN

TAHAP KEGIATAN

KETERANGAN
SIKLUS 1

Data Video dan Photo pada tiap pengamatan.
1.
11 Agustus 2014
Tahap perencanaan (Planning)
2.
20 Agustus 2014
Tahap melakukan tindakan (Action)
3.
25 Agustus 2014
Tahap mengamati (observation)
4.
17 September 2014
Tahap refleksi (Reflection)


SIKLUS 2
5.
8 Oktober 2014
Tahap perencanaan (Planning)
6.
10 Oktober 2014
Tahap melakukan tindakan (Action)
7.
17 Oktober 2014
Tahap mengamati (observation)
8.
12 Nopember 2014
Tahap refleksi (Reflection)
9.
24 Desember 2014
Tahap Analisis Data dan Deskripsi Temuan sebagai bahan Laporan
10.
9 – 21 Janiari 2014
Menyusun laporan PTK



DAFTAR PUSTAKA
Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru.Jakarta: Dirjen Dikgu dan Tentis.
Arikunto, Suharsimi. 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dirjen PMPTK.
Arnold, Matthew. 1869. Culture and Anarchy. New York: Macmillan. Third Edition, 1882, available online.
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Lampiran Permendiknas no 22
Gazalba, Sidi. 1967. Pengantar Kebudayaan Sebagai Ilmu. Djakarta: Pustaka Antara.
Kemmis, S. dan Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Deakin: Deakin University.
Lilawati. 1988. Hubungan Antara Tingkat pendidikan Orang Tua, Stimulasi Membaca dari Orangtua dan Intelegensi dengan Minat Membaca Pada Anak Kelas V Sekolah Dasar. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Meichati, S. 1978. Motivasi Pembaca. Yogyakarta: Universitas gadjah Mada
Purwo, B.K. 1979. Pokok-pokok pengajaran dan kurikulum bahasa Indonesia 1994. Jakarta: Depdikbud.
Slavin, R. 1998. Educational Psychology: Theory and Practice. Fourth edition. Boston: Allyn and Bacon.
Suroto. 1962. Indonesia di Tengah-Tengah Dunia dari Abad ke Abad.Djakarta: Djambatan
Suhardjono et.al. 2005. Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Di Bidang Pendidikan Dan Kebudayaan
Wibawa, Basuki. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depdiknas Dirjen Pendasmen Dirtendik: 2003


Tidak ada komentar:

Posting Komentar