PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)
MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INGGRIS
MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INGGRIS
DENGAN METODE PEMBELAJARAN DISCOVERY PADA SISWA KELAS 7.2
DI
SMP NEGERI 3 BAJO
KECAMATAN BAJO KABUPATEN LUWU
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
OLEH:
AKSAN NUGROHO, S. Pd
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
SMP NEGERI 3 BAJO
KECAMATAN BAJO, KABUPATEN LUWU
KECAMATAN BAJO KABUPATEN LUWU
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
OLEH:
AKSAN NUGROHO, S. Pd
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
SMP NEGERI 3 BAJO
KECAMATAN BAJO, KABUPATEN LUWU
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Meningkatkan Motivasi dan Prestasi
Belajar BAHASA INGGRIS dengan Metode Pembelajaran Discovery Pada Siswa Kelas VII.2
di SMP NEGERI 3 Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu.
A. LATAR BELAKANG
MASALAH
Sistem pendidikan di Indonesia ternyata telah mengalami
banyak perubahan. Perubahan-perubahan itu terjadi karena telah dilakukan
berbagai usaha pembaharuan dalam pendidikan. Akibat pengaruh itu, pendidikan
semakin mengalami kemajuan.
Sejalan dengan kemajuan tersebut, maka dewasa ini pendidikan
di sekolah-sekolah telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan
itupun terjadi karena terdorong adanya pembaharuan tersebut, sehingga di dalam
pengajaran guru selalu ingin menemukan metode dan peralatan baru yang dapat
memberikan semangat belajar bagi semua siswa. Bahkan secara keseluruhan dapat
dikatakan bahwa pembaharuan dalam sistem pendidikan yang mencakup seluruh
komponen yang ada. Pembangunan di bidang pendidikan barulah ada artinya apabila
dalam pendidikan dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan
bangsa Indonesia yang sedang membangun.
Pada hakekatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu
proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan
pembelajaran. Guru sebagai salah satu komponen dalam proses belajar menganjar
merupakan pemegang peran yang sangat penting. Guru bukan hanya sekadar
penyampai materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan sebagai
sentral pembelajaran.
Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses belajar
mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu
dilaksanakan. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi
lebeh efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan
membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran
tersebut.
Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan
pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya
yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur,
berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab,
mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga harus mampu
menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal semangat
kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan
nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan dan rnembangun
dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Depdikbud (1999)
Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak
faktor di antaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar
mengajar, karena guru secara langsung dapat memengaruhi, membina dan
meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi permasalahan
di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat
penting dan diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik dan mampu
memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata
pelajaran yang akan disampaikan.
Untuk itu diperlukan suatu upaya dalam rangka meningkatkan
mutu pendidikan dan pengajaran salah satunya adalah dengan memilih strategi
atau cara dalam menyampaikan materi pelajaran agar diperoleh peningkatan
prestasi belajar siswa khususnya pelajaran BAHASA INGGRIS. Misalnya dengan membimbing
siswa untuk bersama-sama terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan mampu
membantu siswa berkembang sesuai dengan taraf intelektualnya akan lebih
menguatkan pemahaman siswa terhadap konsep - konsep yang diajarkan.
Pemahaman ini memerlukan minat dan motivasi. Tanpa adanya
minat menandakan bahwa siswa tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Untuk itu,
guru harus memberikan suntikan dalam bentuk motivasi sehingga dengan bantuan
itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar. Sehingga nilai rata-rata
mata pelajaran BAHASA INGGRIS yang diharapkan oleh guru adalah 90, 00.
Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, kegagalan dalam
belajar rata-rata dihadapi oleh sejumlah siswa yang tidak memiliki dorongan
belajar. Sehingga nilai rata-rata mata pelajaran BAHASA INGGRIS sangat rendah
yaitu mencapai 50, 00. Hal ini disebabkan karena guru dalam proses belajar
mengajar hanya menggunakan metode ceramah, tanpa menggunakan alat peraga, dan
materi pelajaran tidak disampaikan secara kronologis.
Untuk itu dibutuhkan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru
dengan upaya membangkitkan motivasi belajar siswa, misalnya dengan membimbing
siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan yang melibatkan siswa serta guru
yang berperan sebagai pembimbing untuk menemukan konsep BAHASA INGGRIS.
Motivasi tidak hanya menjadikan siswa terlibat dalam
kegiatan akademik, motivasi juga penting dalam menentukan seberapa jauh siswa
akan belajar dari suatu kegiatan pembelajaran atau seberapa jauh menyerap
informasi yang disajikan kepada mereka. Siswa yang termotivasi untuk belajar
sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari
materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan
lebih baik. Tugas penting guru adalah merencanakan bagaimana guru mendukung
motivasi siswa (Nur, 2001 : 3). Untuk
itu sebagai seorang guru disamping menguasai materi, juga diharapkan dapat
menetapkan dan melaksanakan penyajian materi yang sesuai kemampuan dan kesiapan
anak, sehingga menghasilkan penguasaan materi yang optimal bagi siswa.
Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis mencoba
menerapkan salah satu metode pembelajaran, yaitu metode pembelajaran penemuan
(discovery) untuk mengungkapkan apakah dengan model penemuan (discovery) dapat
meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar BAHASA INGGRIS. Penulis
memilih metode pembelajaran ini mengkondisikan siswa untuk terbiasa menemukan,
mencari, mendikusikan sesuatu yang berkaitan dengan pengajaran. (Siadari, 2001: 4). Dalam metode
pembelajaran penemuan (discovery) siswa lebih aktif dalam memecahkan untuk
menemukan sedangkan guru berperan sebagai pembimbing atau memberikan petunjuk
cara memecahkan masalah itu.
Dari latar belakang tersebut di atas maka penulis dalam
penelitian ini mengambil judul " Meningkatkan Motivasi Dan Prestasi
Belajar BAHASA INGGRIS dengan Metode Pembelajaran Discovery Pada Siswa Kelas VII.2
Di SMP NEGERI 3 Kecamatan Bajo Kabupaten Luwu Tahun Pelajaran 2013/2014".
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut:
- Bagaimanakah pengaruh metode pembelajaran discovery
terhadap motivasi belajar siswa mata pelajaran BAHASA INGGRIS pada siswa
kelas VII.2 di SMP NEGERI 3 Kecamatan Bajo Kabupaten Luwu, Tahun pelajaran
2013/2014?
- Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar siswa dengan
diterapkannya pembelajaran discovery mata pelajaran BAHASA INGGRIS pada
siswa kelas VII.2 di SMP NEGERI 3 di Kecamatan Bajo Kabupaten Luwu Tahun
pelajaran 2013/2014?
C. TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
- Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa
setelah diterapkan pembelajaran discovery mata pelajaran BAHASA INGGRIS
pada siswa kelas VII.2 di SMP NEGERI 3 di Kecamatan Bajo Kabupaten Luwu
Tahun pelajaran 2013/2014.
- Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa
setelah diterapkannya pembelajaran discovery mata pelajaran BAHASA
INGGRIS pada siswa kelas VII.2 di SMP NEGERI 3 di Kecamatan Bajo Kabupaten
Luwu Tahun pelajaran 2013/2014.
D. MANFAAT PENELITIAN
Penulis
mengharapkan dengan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1.
Guru
Memberikan informasi tentang metode
pembelajaran yang sesuai dengan materi BAHASA INGGRIS.
2.
Siswa
Meningkatkan motivasi dan prestasi pada mata pelajaran BAHASA INGGRIS.
Meningkatkan motivasi dan prestasi pada mata pelajaran BAHASA INGGRIS.
3. Sekolah
Memberikan masukan bagi pihak sekolah sebagai pedoman untuk mengambil kebijakan di sekolah .
Memberikan masukan bagi pihak sekolah sebagai pedoman untuk mengambil kebijakan di sekolah .
E. HIPOTESIS TINDAKAN
Hipotesis
tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
- Penerapan pembelajaran discovery dapat meningkatkan
motivasi belajar mata pelajaran BAHASA INGGRIS pada siswa kelas VII.2 di
SMP NEGERI 3 di Kecamatan Bajo Kabupaten Luwu Tahun pelajaran 2013/2014.
- Penerapan pembelajaran discovery dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa mata pelajaran BAHASA INGGRIS pada siswa kelas VII.2
di SMP NEGERI 3 di Kecamatan Bajo Kabupaten Luwu Tahun pelajaran 2013/2014.
F. RUANG LINGKUP
PENELITIAN
Ruang
lingkup dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
- Permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah
masalah peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa.
- Penelitian tindakan kelas ini dikenakan pada siswa
kelas VII.2
- Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di pelajaran
BAHASA INGGRIS pada siswa kelas VII.2 di SMP NEGERI 3 BAJO.
- Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun
pelajaran 2013/2014.
- Penelitian tindakan kelas ini dibatasi pada kompetensi
dasar menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan sebuah bentuk
waktu kalimat, masa sekarang, lampau dan akan datang.
G. DEFINISI
OPERASIONAL
Variabel
agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini, maka perlu
didefinisikan hal-hal sebagai berikut:
1.
Metode pembelajaran
penemuan (discovery) adalah: Suatu cara mengajar yang melibatkan siswa dalam
proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan diskusi, seminar, membaca
sendiri dan mencoba sendiri agar anak dapat belajar sendiri.
2.
Motivasi belajar
adalah: Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau
tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan
kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat
sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
3.
Prestasi belajar
adalah: Hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk
skor, setelah siswa mengikuti pelajaran.
H. KAJIAN PUSTAKA
A. Metode Pembelajaran Penemuan (Discovery)
Teknik penemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut
Sund, discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan
sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksudkan dengan proses mental tersebut
antara lain ialah: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, manbuat
dugaan, menjelaskan, mengukur membuat kesimpulan dan sebagainya. Suatu konsep
misalnya: puisi, sajak, Gaya bahasa dan sebagainya, sedang yang dimaksud dengan
prinsip antara lain ialah: Matahari sudah beranjak dari peraduannya. Dalam
teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses
mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi.
Dr. J. Richard dan asistennya mencoba self-learning siswa
(belajar sendiri) itu, sehingga situasi belajar mengajar berpindah dari situasi
teacher learning menjadi situasi student dominated learning. Dengan
menggunakan discovery learning, ialah
suatu cara mengajar yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui
tukar pendapat, dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri agar
anak dapat belajar sendiri.
Pada penggunaan teknik discovery ini guru berusaha meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. Maka, teknik ini memiliki keuntungan sebagai berikut:
- Teknik ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan,
memperbanyak kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses
kognitif/pengenalan siswa.
- Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat
pribadi individual sehingga dapat kokoh/mendalam tertinggal dalam jiwa
siswa tersebut. Dapat membangkitkan kegairahan belajar mengajar para
siswa.
- Teknik ini mampu memberikan kesempatan kepada siswa
untuk berkembang dan maju sesuai dengankernampuannya masing-masing.
- Mampu mengarahkan cara siswa belajar, sehingga lebih
memiliki motivasi yang kuat untuk belajar lebih giat.
- Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah
kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri.
Strategi itu berpusat pada siswa tidak pada guru. Guru hanya
sebagai teman belajar saja, membantu bila diperlukan.
Walaupun demikian baiknya teknik ini, masih
ada pula kelemahan yang perlu diperhatikan, ialah:
- Pada siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental
untuk cara belajar ini. Siswa harus berani dan berkeinginan untuk
mengetahui keadaan sekitarnya dengan baik.
- Bila kelas terlalu besar penggunaan teknik ini akan
kurang berhasil.
- Bagi guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencaan
dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan
teknik penemuan.
- Dengan teknik ini ada yang berpendapat bahwa proses
mental ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini terlalu
mementingkan proses pengertian saja, kurang memperhatikan
perkembangan/pembentukan sikap dan keterampilan bagi siswa.
- Teknik ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk
berpikir secara kreatif.
B.
Motivasi Belajar
Pengertian
Motivasi
Motivasi adalah daya nalar diri seseorang yang mendorongnya
untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisme yang
menyebabkan-kesiapan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau
perbuatan. Sedangkan prestasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif
menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai
tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah
lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman, 2000: 28).
Sedangkan menurut Djamarah (2002: 114) motivasi adalah suatu
pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas
nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar, motivasi sangat
diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak
akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini sesuai dengan yang
diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang termotivasi dalam belajar
sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari
materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan
lebih baik.
Jadi motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang
untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
Beberapa
cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi antara lain:
- Kompetisi (persaingan): guru berusaha menciptakan
persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya,
berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan
mengatasi prestasi orang lain.
- Pace Making (membuat tujuan sementara atau dekat): Pada
awal kegiatan belajar mengajar guru, hendaknya terlebih dahulu
menyampaikan kepada siswa TPK yang akan dicapai sehingga dengan demikian
siswa berusaha untuk mencapai TPK tersebut.
- Tujuan yang jelas: Motif mendorong individu untuk
mencapai tujuan. Makin jelas tujuan, makin besar ni]ai tujuan bagi
individu yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi dalam melakuakan
sesuatu perbuatan.
- Kesempurnaan untuk sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan
rasa puas, kesenangan dan kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan
kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya. Dengan demikian, guru
hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk meraih sukses
dengan usaha mandiri, tentu saja dengan bimbingan guru.
- Minat yang besar: Motif akan timbul jika individu
memiliki minat yang besar.
- Mengadakan penilaian atau tes. Pada umumnya semua siswa
mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti
dalam kenyataan bawa banyak siswa yang tidak belajar bila tidak ada
ulangan. Akan tetapi, bila guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan
ulangan lisan, barulah siswa giat belajar dengan menghafal agar ia
mendapat nilai yang baik. Jadi, angka atau nilai itu merupakan motivasi
yang kuat bagi siswa.
I.
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bersifat reflektif, partisipatif, kolaboratif, dan spiral, bertujuan untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, dan kompetensi atau situasi pembelajaran.
B. Kehadiran Peneliti
Pada penelitian ini, guru sebagai peneliti dan merencanakan kegiatan berikut:
- Menyusun angket untuk pembelajaran dan menyusun rencana
program pembelajaran
- Mengumpulkan data dengan cara mengamati kegiatan
pembelajaran
- Melaksanakan rencana program pembelajaran yang telah
dibuat
- Melaporkan hasil penelitian
C. Lokasi Penelitian
Yang menjadi objek dan tempat Penelitian Tindakan Kelas ini adalah
siswa kelas 7.2 di SMP NEGERI 3 BAJO
KABUPATEN LUWU
Adapun alasan pemilihan tempat
ini adalah; SMP Negeri 3 Bajo merupakan sekolah induk mengajar penulis.
D. Data dan sumber
- Data dalam penelitian ini adalah kemampuan berfikir
siswa yang diperoleh dengan mengamati munculnya pertanyaan dan jawaban
yang muncul selama pembelajaran berlangsung.
- Sumber data penelitian adalah siswa kelas VII sebagai
obyek penelitian.
E. Prosedur
pengumpulan data
Pengumpulan
data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik sebagai berikut :
1.
Wawancara
Teknik ini dilakukan observer kepada guru dan siswa untuk
menentukan tindakan. Wawancara dilakukan untuk mengetahui kondisi awal siswa.
2.
Angket
Angket merupakan data penunjang yang digunakan untuk
mengumpulkan informasi terkait dengan respon atau tanggapan siswa terhadap
penerapan pembelajaran discovery.
3.
Observasi
Observasi dilaksanakan untuk memperoleh data kemampuan
berpikir siswa yang terdiri dari beberapa deskriptor yang ada selama pembelajaran
berlangsung.
4.
Test
Test dilaksanakan setiap akhir siklus, hal ini dimaksudkan
untuk mengukur hasil yang diperoleh siswa setelah pemberian tindakan.
5.
Catatan lapangan
Catatan lapangan digunakan sebagai pelengkap data penelitian
sehingga diharapkan semua data yang tidak termasuk dalam observasi dapat
dikumpulkan pada penelitian ini.
F. Analisis data
1.
Kemampuan Berpikir
Untuk
mengetahui kelanjutan dari penelitian ini, maka diadakan pengisian rubrik untuk
mengetahui kemampuan berpikir siswa setelah pemberian tes.
Adapun
formula untuk mencari skor klasikal kemampuan bertanya siswa adalah sebagai
berikut:
Skor riil
X 4 Ex. 75 X 4 =
Skor maks 100
Keterangan:
Skor riil : skor total yang diperoleh siswa
Skor riil : skor total yang diperoleh siswa
Skor
maksimal : Skor total yang
seharusnya diperoleh siswa
4 : Skor maksimal dari tiap jawaban.
2.
Hasil Belajar
Adapun
cara mengetahui hasil ketuntasan belajar siswa adalah sebagai berikut:
1.
Secara individu,
siswa dianggap telah belajar tuntas apabila daya serapnya mencapai 65 %.
2.
Secara kelompok dianggap
tuntas jika telah belajar apabila mencapai 85 % dari jumlah siswa yang mencapai
daya serap minimal 65 %.
G. Tahap-tahap
penelitian
Adapun
yang menjadi tahapan-tahapan penelitian ini adalah:
-
Berdasarkan observasi
awal, proses pembelajaran yang dilakukan adalah model pembelajaran discovery.
-
Penelitian ini akan
dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan,
tindakan, observasi, refleksi.
PROSES PENELITIAN
SIKLUS I
1.
Perencanaan (Planning)
Adapun
kegiatan pada tahap ini adalah:
- Menyusun RPP dengan model pembelajaran yang
direncanakan dalam PTK.
- Merancang lembar kerja siswa sesuai dengan indikator
pembelajaran yang ingin dicapai.
- Membuat soal tes yang akan diadakan untuk
mengetahui hasil pembelajaran siswa.
- Membentuk kelompok heterogen.
- Memberikan penjelasan pada siswa mengenai teknik
pelaksanaan model pembelajaran yang akan dilaksanakan.
2.
Pelaksanaan Tindakan (Action)
Pada tahapan ini, rancangan
pelaksanaannya adalah:
- Pengajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang
telah dibuat. Adapun langkah – langkah yang dilakukan adalah (disesuaikan
dengan skenario pembelajaran)
- Kegiatan penutup
3.
Observasi
a.
Melakukan diskusi dengan guru SMPN 3 Bajo dan Kepala Sekolah
untuk rencana observasi.
b.
Menyimpulkan hasil pengamatan terhadap penerapan pengajaran
model pembelajaran Discovery.
c.
Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi
saat penerapan model pembelajaran discovery.
d.
Melakukan diskusi dengan guru satu rombel.
4.
Refleksi
a.
Menganalisis temuan saat melakukan observasi
pelaksanaan observasi.
b.
Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat
menerapkan model pembelajaran discovery dan mempertimbangkan langkah
selanjutnya.
c.
Melakukan refleksi terhadap penerapan model
pembelajaran discovery.
d.
Melakukan refleksi terhadap kreativitas peserta didik
dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
e.
Melakukan refleksi terhadap hasil belajar peserta
didik.
SIKLUS II
Tahap
Perencanaan (Planning), mencakup:
1.
Mengevaluasi hasil refleksi, mendiskusikan, dan
mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran berikutnya.
2.
Mendata masalah dan kendala yang dihadapi saat
pembelajaran.
3.
Merancang perbaikan berdasarkan refleksi siklus 1.
Tahap
Melakukan Tindakan (Action), mencakup:
1.
Melakukan analisis pemecahan masalah.
2.
Melaksanakan tindakan perbaikan dengan menggunakan
penerapan model pembelajaran discovery.
Tahap
Mengamati (observation), mencakup:
1.
Melakukan pengamatan terhadap penerapan model
pembelajaran Discovery.
2.
Mencatat perubahan yang terjadi.
3.
Melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat
pembelajaran dan memberikan respon timbal balik.
Tahap Refleksi
(Reflection), mencakup:
1.
Merefleksikan proses pembelajaran Discovery.
2.
Merefleksikan hasil belajar peserta didik dengan
penerapan model pembelajaran Discovery.
3.
Menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian.
4.
Menyusun rekomendasi.
Dari tahap kegiatan pada siklus 1 dan 2, hasil yang
diharapkan adalah:
1.
Peserta didik memiliki kemampuan dan kreativitas serta
selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris
2.
Guru memiliki kemampuan merancang dan menerapkan model
pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok khusus pada mata pelajaran Bahasa
Inggris
3.
Peningkatan prestasi peserta didik pada mata pelajaran
Bahasa Inggris.
ANALISIS DATA
Untuk lebih menjamin keakuratan data, pada penelitian ini
dilakukan perekaman data dalam video dan photo selama kegiatan penelitian
berlangsung.
JADWAL
PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun
pelajaran 2013/2014, antara bulan Agustus sampai dengan bulan Januari 2014 dan
rencana berlangsung selama 6 bulan secara berkesinambungan. Dengan agenda
kegiatan sebagai berikut:
|
NO
|
TANGGAL PERTEMUAN
|
TAHAP KEGIATAN
|
KETERANGAN
|
|
SIKLUS 1
|
Data Video dan Photo pada tiap pengamatan.
|
||
|
1.
|
11 Agustus 2014
|
Tahap perencanaan (Planning)
|
|
|
2.
|
20 Agustus 2014
|
Tahap melakukan tindakan (Action)
|
|
|
3.
|
25 Agustus 2014
|
Tahap mengamati (observation)
|
|
|
4.
|
17 September 2014
|
Tahap refleksi (Reflection)
|
|
|
|
|
SIKLUS 2
|
|
|
5.
|
8 Oktober 2014
|
Tahap perencanaan (Planning)
|
|
|
6.
|
10 Oktober 2014
|
Tahap melakukan tindakan (Action)
|
|
|
7.
|
17 Oktober 2014
|
Tahap mengamati (observation)
|
|
|
8.
|
12 Nopember 2014
|
Tahap refleksi (Reflection)
|
|
|
9.
|
24 Desember 2014
|
Tahap Analisis Data dan Deskripsi Temuan sebagai
bahan Laporan
|
|
|
10.
|
9 – 21 Janiari 2014
|
Menyusun laporan PTK
|
DAFTAR PUSTAKA
Angka Kredit
Pengembangan Profesi Guru.Jakarta: Dirjen Dikgu dan Tentis.
Arikunto,
Suharsimi. 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dirjen PMPTK.
Arnold,
Matthew. 1869. Culture and Anarchy. New
York: Macmillan. Third Edition, 1882, available online.
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan: Lampiran Permendiknas no 22
Gazalba,
Sidi. 1967. Pengantar Kebudayaan Sebagai
Ilmu. Djakarta: Pustaka Antara.
Kemmis, S. dan
Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Deakin: Deakin University.
Lilawati.
1988. Hubungan Antara Tingkat pendidikan
Orang Tua, Stimulasi Membaca dari Orangtua dan Intelegensi dengan Minat Membaca
Pada Anak Kelas V Sekolah Dasar. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada.
Meichati, S. 1978. Motivasi Pembaca.
Yogyakarta: Universitas gadjah Mada
Purwo, B.K. 1979. Pokok-pokok
pengajaran dan kurikulum bahasa Indonesia 1994.
Jakarta: Depdikbud.
Slavin, R. 1998. Educational Psychology: Theory and Practice. Fourth edition. Boston:
Allyn and Bacon.
Suroto. 1962. Indonesia di Tengah-Tengah Dunia dari Abad
ke Abad.Djakarta: Djambatan
Suhardjono
et.al. 2005. Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Di Bidang Pendidikan Dan Kebudayaan
Wibawa, Basuki. 2003. Penelitian Tindakan
Kelas. Jakarta: Depdiknas Dirjen Pendasmen Dirtendik: 2003
Tidak ada komentar:
Posting Komentar