Rabu, 16 April 2014

MAKASSAR DAN PANCASILA

             Gue mau bahas kota #MAKASSAR dari sudut pandang PANCASILA yang gue punya. Dari dulu sampai ksekarang sejak ditetapkannya, PANCASILA gak pernah berobah secara tekstual namun berobah secara kontekstual aja. 

Lu mau lihat dimana? Di Makassar. Dan gue akan ulas satu per satu pemaknaannya.

                KETUHANAN YANG MAHA ESA

              Lu gak usah bicara atheisme di Makassar karena hampir sudah tidak ada lagi orang yang tidak percaya tuhan sekarang. 

Kenapa gue bilang “hampir”? 

Karena sebejad-bejad apapun hidup lu, seberengsek apapun kelakuan lu, sepreman apapun gaya lu, sekafir-kafirnya lu juga, kalo pas hari lebaran idul fitri atau idul adha, lu pasti akan ingat kembali agama lu ISLAM dan lu akan sholat.

                Tapi jangan senang dulu. Di Makassar, Seislam-islamnya diri lu, dan sealim-alimnya keluarga lu, kalo gue ajak lu lihat kandang babi atau membahas soal babi, lu pasti akan jijik dan bulu kuduk lu akan merinding.

                KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB

                Tahun 2003 pertama kali gue kuliah, di Makassar belum ada jalan fly over. Mall juga belum terlalu banyak untuk diminati. Kecuali lu anak China. 

Palingan anak pribumi nonton hemat di XXI kalo hari senin. Hari lain mana ada, paling cuma beberapa orang. Tiketnya mahal. Di Pantai Losari, masih ada warung-warung tenda di laguna. Anak-anak motor pada nongkrong di sekitarnya. Dan tahun demi tahun bertambah.

Mungkin inilah yang mengakibatkan tahun 2013 dan 2014 banyak gank motor bermunculan karena memang lahan nongkrong mereka sudah tidak ada lagi. 

Ada juga indikasi bahwa Gank Motor itu adalah orang yang siang harinya mengantar galloon ke rumah-rumah warga dan malamnya adain balapan liar.

Berikutnya, pengaruh media. Kemungkinan anak-anak seperti itu memang latar belakangnya keluarga yang serba kekurangan, miskin, tidak berpendidikan dan tidak adanya arahan untuk merobah perilaku.

Beberapa waktu terakhir lagi trend istilah MIRAS OPLOSAN. Tanya kenapa? Seorang dokter saja kadang salah takar dosis obat-obat yang ada resep. 

Dan ini, anak muda yang SD saja gak tamat malah berani-beraninya nyampur minuman dari berbagai jenis bahan kimia. Memang sudah kentara bodohnya.

Mau menyalahkan? Sebenarnya tidak. Manusia itu diciptakan untuk berpikir dan berkarya. Memang merekalah yang tidak mau untuk berubah. 

Pada dasarnya mereka merasa nyaman dengan hidup dari menggangu orang lain. Sudah bukan zamannya saling menyalahkan. Bukan waktunya untuk mengkritik dan mencela sesuatu. Sekarang itu waktunya berevolusi.

Gue sekilas mau cerita: gue juga suka minum alcohol, malah gue ngisap ganja, gue latihan basket tiga kali seminggu dan gue juga main band sama teman-teman gue. Tapi karena gue tahu untuk berbuat sesuai porsi dan posisinya, makanya ada yang gue batasi dan ada yang gue kurangi.

Tahun 2014, Makassar jauh dari yang namanya kenyamanan dan ketenteraman. Orang-orang berpendidikan terancam kehidupannya oleh orang-orang yang buta huruf. Orang relijius terdesak karena kehadiran sekte Gank Motor.

Lalu, apakah kita harus selalu juga bawa senjata minimal pisau untuk melawan sewaktu-waktu? TIDAK.

Ketika kita melakukan itu, apa bedanya kita dengan mereka. Disini gue nggak bilang bahwa Polisi gak becus. 

Cuma memang tidak ada tindakan apa-apa yang nyata yang bisa membuat warga Makassar jadi nyaman.

Kecuekan warga malah membuat para perusuh ini semakin menjadi-jadi. Entah apa yang ada di dalam pikiran masyarakat mMakassar yang nota bene katanya cerdas dan pintar. Aksi pembiaran? Tentu saja. Mereka pastinya menunggu seorang Super Hero yang ada di film untuk membantu mereka. Lagi-lagi seperti orang atheis merindukan Tuhan saja.

PERSATUAN INDONESIA

Di Makassar itu, warganya majemuk.

Banyak kalangan, banyak ras, suku dan komunitas. Anggap saja Makassar adalah Nusantara mini di Indonesia. Gue nggak perlu nulis satu-satu suku dan agama yang ada. Semua juga sudah ngerti. 

Kalo bahas persatuan, MAKASSAR malah nggak solid. Kenapa gue bilang begitu? 

Contoh kasus pertama: Jusuf Kalla periode kemarin Nyapres. Suaranya malah minim di Sulawesi Selatan. Berarti Jawa masih menguasai Indonesia dan otak orang Sulawesi Selatan. 

Giliran Andi Mallarangeng tertangkap, semua warga rame-rame cuci tangan dan pura-pura nggak mau tahu dan malah bilang “rasain lu” sama Andi Mallarangeng. Tidak semua begitu? 

Okelah, tidak semua.

Lalu, bagaimana dengan aksi Mahasiswa yang demonstrasi? 

Persatuan kurang, makanya tinggal jadi aksi teriak-teriak di pinggir jalan aja yang ada. Sepanjang pengetahuan saya sampai sekarang, dari tahun 2008- 2013, nggak pernah ada tuntutan Mahasiswa Makassar yang demo kemudian ditanggapi secara resmi dari pihak yang diprotes. Kalo gue salah, coba lu tunjukin mana?

KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN DAN PERWAKILAN

Jawa masih menguasai 98% wilayah Indonesia. Memimpikan Indonesia Timur yang lebih baik itu sama saja mengharapkan Yesus turun ke dunia lagi. 

Dua persennya? Ya merata di Sulawesi, Maluku dan Papua.

Musyawarah? Jangan harap. Warga Makassar itu lebih mengutamakan otot dari pada otak. 

Contohnya, lu cuma jalan sama cewek yang lagi disuka juga sama salah satu laki-laki di tempat dia tinggal, berikutnya lu datang, lu bakalan diwanti-wanti sama kelompok anak muda tadi. Tanpa lu dikasi tahu apa persoalan lu sebelumnya. 

Lagian juga rahasianya bersosial di Makassar kalo uang duit lu banyak, lu bisa beli warganya. Itu saja sih dari gue. 

Secara orang Sulawesi Selatan itu pikirannya cuma menghasilkan uang tanpa lihat kualitas.

KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

Kehidupan sosial yang amburadul, ekonomi yang tidak berobah, pendidikan tidak merata, jadi jangan mengharapkan keadilan sosial untuk hidup deh di Makassar. 

Tapi kalo lu China, lu bisa dihormati sedikit dari pada pribumi. Kebanyakan memang warga Makassar lebih suka menzolimi warga asli Indonesia. 

Kalo di Jakarta, Makassar itu mirip-mirip sama Betawi lah. Penduduk asli yang kurang menerima kemoderenan dan perkembangan zaman.

Mengharapkan keadilan sosial di Makassar juga sama sekali harapan palsu aja. 

Kecuali lu punya barang gratis dan murahnya jauh di bawah harga pasar, Makassar demen banget tuh.

Di Makassar itu sok kenal dan sok dekat serta sok tahunya itu tinggi. Lu ngomong pake dialek Jawa dikit aja, lu bakalan ditemani ngobrol dan lu bakalan dikira orang Jawa dan orang Makassar malah suka itu. 

Gue nggak mengkritik, gue nggak mengejek apalagi mencela. Gue disini cuma mau Makassar kembali bercermin bahwa selama ini hanya ada mental pengecut dan “Pacalla-calla” yang dibudayakan.

Sekali waktu teman gue ke Mall pasang tattoo. Pas dia ganti lagu milik Tattoo Campnya ke lagunya RAMONES, salah seorang pengungjung nyeletuk, “Lagu apaan itu?” 

Sontak teman gue balas “Hei, lu pake-pake baju sablonan RAMONES sekarang buat apa? LU mati aja deh, lagu ini dinyanyiin sama orang yang ada di baju lu.” Teman gue menang.

Jadi, di Makassar memang kebanyakan orang suka sesuatu tanpa mencernanya lebih dulu. Jadi kasihan mereka (Warga Makassar) yang jadi hasil dari korban kepintaran orang Jawa.

Lakukan apa yang lu suka, tapi jangan mengganggu orang lain. Itulah kebebasan. Apapun gaya lu, apapun makanan lu, gue ikut makan selama gak ada paksaan dari lu.

Pancasila itu memang gak berlaku di Makassar karena slogannya Ayam Jantan dari Timur. 
Lu mau Negara lu disamain mentalnya sama Ayam Jago dari kampung yang notabene lebih sering dipake buat aduan? Yang ujung-ujungnya akan jadi sop?

Jangan lupa mampir di Makassar kalo lu ada sempat. 

Setelah membaca ini, Makassar masih tetap kota yang indah buat gue. 

Karena di Makassar, gue bisa belajar apa arti Indonesia buat gue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar