Gue mau bahas kota #MAKASSAR dari
sudut pandang PANCASILA yang gue punya. Dari dulu sampai ksekarang sejak
ditetapkannya, PANCASILA gak pernah berobah secara tekstual namun berobah
secara kontekstual aja.
Lu mau lihat dimana? Di Makassar. Dan gue akan ulas
satu per satu pemaknaannya.
KETUHANAN YANG MAHA ESA
Lu gak usah bicara atheisme di
Makassar karena hampir sudah tidak ada lagi orang yang tidak percaya tuhan
sekarang.
Kenapa gue bilang “hampir”?
Karena sebejad-bejad apapun hidup lu,
seberengsek apapun kelakuan lu, sepreman apapun gaya lu, sekafir-kafirnya lu
juga, kalo pas hari lebaran idul fitri atau idul adha, lu pasti akan ingat
kembali agama lu ISLAM dan lu akan sholat.
Tapi jangan senang dulu. Di
Makassar, Seislam-islamnya diri lu, dan sealim-alimnya keluarga lu, kalo gue
ajak lu lihat kandang babi atau membahas soal babi, lu pasti akan jijik dan
bulu kuduk lu akan merinding.
KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
Tahun 2003 pertama kali gue
kuliah, di Makassar belum ada jalan fly over. Mall juga belum terlalu banyak untuk
diminati. Kecuali lu anak China.
Palingan anak pribumi nonton hemat di XXI kalo
hari senin. Hari lain mana ada, paling cuma beberapa orang. Tiketnya mahal. Di
Pantai Losari, masih ada warung-warung tenda di laguna. Anak-anak motor pada
nongkrong di sekitarnya. Dan tahun demi tahun bertambah.
Mungkin inilah yang
mengakibatkan tahun 2013 dan 2014 banyak gank motor bermunculan karena memang
lahan nongkrong mereka sudah tidak ada lagi.
Ada juga indikasi bahwa Gank Motor
itu adalah orang yang siang harinya mengantar galloon ke rumah-rumah warga dan
malamnya adain balapan liar.
Berikutnya, pengaruh media.
Kemungkinan anak-anak seperti itu memang latar belakangnya keluarga yang serba
kekurangan, miskin, tidak berpendidikan dan tidak adanya arahan untuk merobah
perilaku.
Beberapa waktu terakhir lagi
trend istilah MIRAS OPLOSAN. Tanya kenapa? Seorang dokter saja kadang salah
takar dosis obat-obat yang ada resep.
Dan ini, anak muda yang SD saja gak tamat
malah berani-beraninya nyampur minuman dari berbagai jenis bahan kimia. Memang
sudah kentara bodohnya.
Mau menyalahkan? Sebenarnya
tidak. Manusia itu diciptakan untuk berpikir dan berkarya. Memang merekalah
yang tidak mau untuk berubah.
Pada dasarnya mereka merasa nyaman dengan hidup
dari menggangu orang lain. Sudah bukan zamannya saling menyalahkan. Bukan
waktunya untuk mengkritik dan mencela sesuatu. Sekarang itu waktunya
berevolusi.
Gue sekilas mau cerita: gue juga suka minum alcohol, malah gue ngisap
ganja, gue latihan basket tiga kali seminggu dan gue juga main band sama
teman-teman gue. Tapi karena gue tahu untuk berbuat sesuai porsi dan posisinya,
makanya ada yang gue batasi dan ada yang gue kurangi.
Tahun 2014, Makassar jauh dari yang namanya kenyamanan dan ketenteraman.
Orang-orang berpendidikan terancam kehidupannya oleh orang-orang yang buta
huruf. Orang relijius terdesak karena kehadiran sekte Gank Motor.
Lalu, apakah kita harus selalu juga bawa senjata minimal pisau untuk
melawan sewaktu-waktu? TIDAK.
Ketika kita melakukan itu, apa bedanya kita
dengan mereka. Disini gue nggak bilang bahwa Polisi gak becus.
Cuma memang
tidak ada tindakan apa-apa yang nyata yang bisa membuat warga Makassar jadi
nyaman.
Kecuekan warga malah membuat para perusuh ini semakin menjadi-jadi. Entah
apa yang ada di dalam pikiran masyarakat mMakassar yang nota bene katanya cerdas
dan pintar. Aksi pembiaran? Tentu saja. Mereka pastinya menunggu seorang Super
Hero yang ada di film untuk membantu mereka. Lagi-lagi seperti orang atheis
merindukan Tuhan saja.
PERSATUAN INDONESIA
Di Makassar itu, warganya majemuk.
Banyak kalangan, banyak ras, suku dan
komunitas. Anggap saja Makassar adalah Nusantara mini di Indonesia. Gue nggak
perlu nulis satu-satu suku dan agama yang ada. Semua juga sudah ngerti.
Kalo bahas persatuan, MAKASSAR malah nggak solid. Kenapa gue bilang
begitu?
Contoh kasus pertama: Jusuf Kalla periode kemarin Nyapres. Suaranya
malah minim di Sulawesi Selatan. Berarti Jawa masih menguasai Indonesia dan
otak orang Sulawesi Selatan.
Giliran Andi Mallarangeng tertangkap, semua warga
rame-rame cuci tangan dan pura-pura nggak mau tahu dan malah bilang “rasain lu”
sama Andi Mallarangeng. Tidak semua begitu?
Okelah, tidak semua.
Lalu, bagaimana dengan aksi Mahasiswa yang demonstrasi?
Persatuan kurang,
makanya tinggal jadi aksi teriak-teriak di pinggir jalan aja yang ada. Sepanjang
pengetahuan saya sampai sekarang, dari tahun 2008- 2013, nggak pernah ada tuntutan
Mahasiswa Makassar yang demo kemudian ditanggapi secara resmi dari pihak yang
diprotes. Kalo gue salah, coba lu tunjukin mana?
KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH
HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN DAN PERWAKILAN
Jawa masih menguasai 98% wilayah Indonesia. Memimpikan Indonesia Timur
yang lebih baik itu sama saja mengharapkan Yesus turun ke dunia lagi.
Dua
persennya? Ya merata di Sulawesi, Maluku dan Papua.
Musyawarah? Jangan harap. Warga Makassar itu lebih mengutamakan otot dari
pada otak.
Contohnya, lu cuma jalan sama cewek yang lagi disuka juga sama salah
satu laki-laki di tempat dia tinggal, berikutnya lu datang, lu bakalan diwanti-wanti
sama kelompok anak muda tadi. Tanpa lu dikasi tahu apa persoalan lu sebelumnya.
Lagian juga rahasianya bersosial di Makassar kalo uang duit lu banyak, lu bisa
beli warganya. Itu saja sih dari gue.
Secara orang Sulawesi Selatan itu
pikirannya cuma menghasilkan uang tanpa lihat kualitas.
KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH
RAKYAT INDONESIA
Kehidupan sosial yang amburadul, ekonomi yang tidak berobah, pendidikan
tidak merata, jadi jangan mengharapkan keadilan sosial untuk hidup deh di
Makassar.
Tapi kalo lu China, lu bisa dihormati sedikit dari pada pribumi.
Kebanyakan memang warga Makassar lebih suka menzolimi warga asli Indonesia.
Kalo di Jakarta, Makassar itu mirip-mirip sama Betawi lah. Penduduk asli yang
kurang menerima kemoderenan dan perkembangan zaman.
Mengharapkan keadilan sosial di Makassar juga sama sekali harapan palsu
aja.
Kecuali lu punya barang gratis dan murahnya jauh di bawah harga pasar,
Makassar demen banget tuh.
Di Makassar itu sok kenal dan sok dekat serta sok tahunya itu tinggi. Lu
ngomong pake dialek Jawa dikit aja, lu bakalan ditemani ngobrol dan lu bakalan
dikira orang Jawa dan orang Makassar malah suka itu.
Gue nggak mengkritik, gue
nggak mengejek apalagi mencela. Gue disini cuma mau Makassar kembali bercermin
bahwa selama ini hanya ada mental pengecut dan “Pacalla-calla” yang
dibudayakan.
Sekali waktu teman gue ke Mall pasang tattoo. Pas dia ganti lagu milik
Tattoo Campnya ke lagunya RAMONES, salah seorang pengungjung nyeletuk, “Lagu
apaan itu?”
Sontak teman gue balas “Hei, lu pake-pake baju sablonan RAMONES
sekarang buat apa? LU mati aja deh, lagu ini dinyanyiin sama orang yang ada di
baju lu.” Teman gue menang.
Jadi, di Makassar memang kebanyakan orang suka sesuatu tanpa mencernanya
lebih dulu. Jadi kasihan mereka (Warga Makassar) yang jadi hasil dari korban
kepintaran orang Jawa.
Lakukan apa yang lu suka, tapi jangan mengganggu orang lain. Itulah
kebebasan. Apapun gaya lu, apapun makanan lu, gue ikut makan selama gak ada
paksaan dari lu.
Pancasila itu memang gak berlaku di Makassar karena slogannya Ayam Jantan
dari Timur.
Lu mau Negara lu disamain mentalnya sama Ayam Jago dari kampung yang notabene lebih
sering dipake buat aduan? Yang ujung-ujungnya akan jadi sop?
Jangan lupa mampir di Makassar kalo lu ada sempat.
Setelah membaca ini,
Makassar masih tetap kota yang indah buat gue.
Karena di Makassar, gue bisa
belajar apa arti Indonesia buat gue.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar