Sekali waktu gue sempat
ingat-ingat lagi cewek yang pernah gue pacari dan bagaimana cara gue dapatkan
mereka.
Apakah sekarang gue harus benci
mereka ?
Nggak juga.
Malah gue banyak
belajar ternyata gue bisa pacaran dengan banyak cewek dan mereka hanya bisa
nemun satu cowok kayak gue sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Gue dari kelas 3 SMA memang suka
belajar sastra tapi bukan berarti gue suka sama sastra. Sama ketika gue bahas
BOYBAND di Part #2
Banyak teman yang negur gue,
kenapa postingan lu di facebook extreme? Kayak orang yang lagi gak jelas.
Gue
jawab, justru itu gue bikin pada saat kejelasan berpikir otak gue lagi jalan.
Kalo lu nemuin sosial media hanya untuk berbagi info yang positif, lu
cuma bakalan menekan tombol (suka)
Tapi begitu lu mendengar kalimat-kalimat yang kontra dengan pemikiran lu,
lu pasti akan kasi komentar.
Dan disini, kenapa gue memilih
menjadi anak PUNK setelah tamat SMA sepuluh tahun yang lalu? Karena gue rasa ideologi
berontak dalam kepala gue ada di dalam PUNK.
Cuma teman-teman gue banyak yang
nggak sepaham dengan gue karena mereka cuma ikutin gaya hidupnya saja.
Lu mungkin kenal gue dari nama
gue, keseharian gue, tulisan-tulisan gue. Tapi satu yang nggak lu tahu tentang
gue.
Dan gue kasi tahu, ide-ide nulis ini bisa muncul kapan saja dan apapun
yang gue lakukan, gue langsung nulis.
Jadi lu bisa saja protes, kasi kritik, complain,
atau apa lah.
Yang jelas, otak lu nggak nyampe kalo mau disamain dengan otak gue.
Egois? Lu aja yang berpikir
begitu. Gue jarang ngobrol dengan orang tua gue karena gue tahu dari dulu sejak
pertama gue bisa berpikir.
Bahwa orang tua gue itu kolot, kampungan dan dibesarkan dengan sistem
zaman purbakala. Dan mereka mau nerapin pola pikir mereka sama gue?
Nggak mungkin lah. Gue manusia modern yang beda zaman dengan mereka. Ini
bukan perlawanan cuma penolakan aja dari gue.
Bosan gue dengar jejak record mereka yang nggak pernah ngasi contoh
sebagai orang tua tapi maunya langsung praktek. Aneh!
Sepuluh tahun lagi gue bakalan
ngapain?
Gue belum pernah dekat dengan
cewek yang bisa membahas masa depan sama gue. Maklumlah karena cewek-cewek yang
gue kenal selam ini kata-katanya doing yang banyak di sosial media.
Giliran
pembuktian masih merasa takut sama orang tua mereka.
Hei, kalian sudah dewasa
dan sudah saatnya pemikiran kita tidak dimasuki oleh pihak-pihak yang tidak
sependapat dengan kita.
Itulah budaya di Indonesia dan Sulawesi
Selatan yang sudah menjadi tradisi dari dulu, nggak tahu kapan munculnya.
Orang tua itu berpikir bahwa
anaknya harus menikah pada umur 25 tahun.
Dan tujuan lu dekat-dekat sama orang tua lu apa? Mau dijadikan daftar
utama warisan? Atau mau dijadikan anak teladan di keluarga yang akhirnya pada
saat butuh saja baru lu diladeni?
Giliran lu yang susah mereka hilang? Itu kan yang namanya keluarga? Apalagi
teman, sama saja. Dan di tulisan ini, bukan cuma gue yang pernah ngalamin.
Itu karena pada zaman mereka pendidikan itu susah jadi otak mereka nggak
kepake buat belajar. Kadang mereka cerita bahwa perjuangan mereka untuk sekolah
sangat berat.
Okelah perjuangan gue setuju. Tapi zamannya kan memang sekolah nggak
banyak, sosial media belum ada, internet aja nggak pake.
Jangan itu semua listrik saja belum ada di rumah mereka karena cuma orang
kaya saja yang punya listrik.
Dan gue lihat-lihat, orang tua gue cuma didoktrin untuk mencari uang
tanpa harus mengandalkan otak untuk berpikir.
Lu pasti pernah juga diminta
untuk mendaftar untuk jadi pegawai negeri sipil kan? Salah satu pekerjaan yang
paling gue nggak suka di dunia.
Mendingan gue mati sebagai koruptor uang Negara
dari pada harus jadi pegawai negeri sipil.
Pertanyaannya, mereka bisa apa sih?
Mereka itu baru tahu komputer setelah ikut pelatihan. Gue aja lupa kapan gue
lancar main komputer dan itu pun berkembang sampai sekarang dalam hidup dan
otak gue.
Hidup itu nggak bakalan rumit
kalo pertama lu punya contoh untuk ditiru dan setelah itu lu berkreasi dengan gaya
lu sendiri.
Kebanyakan orang susah gerak kan karena itu aja, kekangan dari
orang tua yang nggak ngasi contoh sama anaknya tapi mau hasil seperti yang
mereka inginkan.
Gue ingatin ya, anak itu nggak
bakalan lahir kalo bukan karena orang tuanya yang minta. Si anak sendiri nggak
pernah minta dilahirkan dan nggak milih
tempat dimana dia harus lahir kan?
Durhaka? Nggak. Lu salah kalo lu
bilang pernyataan gue diatas itu bikin sesat dan durhaka.
Gue malah berpikir,
mereka yang durhaka sama gue karena mereka jauh lebih dulu menciptakan robot yang
bisa diremote kontrol sebelum robot itu sendiri ditemukan
.
Memang pada akhirnya kalo lu
sudah nggak nemuin jalan keluar, mereka akan bilang “Kan sudah mama-papa bilang
kamu harus nurut” kan?
Dan sebenarnya itu bukan penyesalan dan jangan sekali-kali menyesal untuk
itu. Karena orang tua itu cuma bisanya ngasi lu kritikan nantinya.
Urusan diomelin dan ditegur itu
gue sudah bosan malah dengarnya. Jadi kalo gue dengar ada orang yang ngeluh
atau marah, gue cuma bisa pasang wajah batu aja.
Secara mereka gak tahu apa saja yang sudah gue alami. Dan omelan di
keluarga gue jauh gue nggak ngerti dari pada mereka mau ngerti gue.
Gue bukan jelek-jelekin keluarga gue tapi itu adalah salah satu contoh
keluarga di Sulawesi Selatan.
Percuma lu bilang cinta sama pacar lu tapi ujung-ujungnya lu mau jaga
kehormatan keluarga dengan nurut-nurut perintah orang tua juga.
Gak pernah ada kata durhaka. Lu harus ingat itu.
Yang ada itu malah orang tua yang mau dikasi kata terima kasih secara
langsung tapi sungkan minta sama anaknya. Dan kebanyakan orang tua membesarkan
anaknya dengan KEBOHONGAN.
Orang tua itu maunya anaknya
taat beragama.
Sedangkan mereka sendiri ibadahnya gak jelas?
Hanya tuhan bagaimana ibadah
mereka sebelum lahirin gue?
Wajar saja kalau anaknya sudah besar suka bohong, nggak logis sampai
mereka yang temukan sendiri jawabannya.
Dan orang tua itu nggak pernah nyesal, dan nggak pernah mau minta maaf
secara langsung sama anaknya kalo mereka salah. Tapi malah menyuruh kita untuk
minta maaf kalo kita salah. Lagi-lagi aneh.
Emang lu pernah lihat nasinya
menangis?
Pernah gak lu mukul meja pas kaki atau lutut lu kejedot?
Siapa yang bodoh, meja atau lu yang gak lihat-lihat kalo jalan?
Di sungai itu lu bukannya dilarang buang cabe ke airnya.
Tapi lu diminta jaga kebersihan. Kalo sisa cabe makan lu aja lu buang,
pasti sampah yang lain ikut lu buang juga kan?
Disaat kita sebagai manusia modern hidup dengan teknologi, para orang tua
justru masih mengira ini zaman mereka yang penuh mitos dan keyakinan-keyakinan
gak jelas.
Mereka itu tahunya ngomong hantu tapi nggak pernah lihat secara langsung.
Mereka juga takut kan?
Dasar orang tua, kadang aneh juga gue lihat mereka. Kasihan banget.
Orang Indonesia itu memang cerdasnya over. Lu lihat aja kata TUHAN. Kalo dibalik
kan suku katanya berobah jadi HANTU. Sekarang, lu pilih takutan mana
diantaranya?
Saatnya lu yang berobah sendiri. Gak usah nunggu kapan.
Dunia nggak
menunggu kedatangan lu tapi dunia butuh posisi lu untuk ada.
Gue bukan motivator tapi kalo lu gak berontak dari keadaan, lu sendiri
yang bakalan kehilangan momen-momen yang lu impikan selama ini.
Sampai ketemu di tulisan gue yang lain. Pulsa gue gak banyak, hampir
habis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar