Rabu, 16 April 2014

SEBAB NAMA AKIBAT MUSIBAH #4

                Sekali waktu gue sempat ingat-ingat lagi cewek yang pernah gue pacari dan bagaimana cara gue dapatkan mereka.

Apakah sekarang gue harus benci mereka ?

                Nggak juga. 
Malah gue banyak belajar ternyata gue bisa pacaran dengan banyak cewek dan mereka hanya bisa nemun satu cowok kayak gue sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.

                Gue dari kelas 3 SMA memang suka belajar sastra tapi bukan berarti gue suka sama sastra. Sama ketika gue bahas BOYBAND di Part #2

                Banyak teman yang negur gue, kenapa postingan lu di facebook extreme? Kayak orang yang lagi gak jelas. 

Gue jawab, justru itu gue bikin pada saat kejelasan berpikir otak gue lagi jalan.

Kalo lu nemuin sosial media hanya untuk berbagi info yang positif, lu cuma bakalan menekan tombol (suka)

Tapi begitu lu mendengar kalimat-kalimat yang kontra dengan pemikiran lu, lu pasti akan kasi komentar.

                Dan disini, kenapa gue memilih menjadi anak PUNK setelah tamat SMA sepuluh tahun yang lalu? Karena gue rasa ideologi berontak dalam kepala gue ada di dalam PUNK. 

Cuma teman-teman gue banyak yang nggak sepaham dengan gue karena mereka cuma ikutin gaya hidupnya saja.

                Lu mungkin kenal gue dari nama gue, keseharian gue, tulisan-tulisan gue. Tapi satu yang nggak lu tahu tentang gue.

Dan gue kasi tahu, ide-ide nulis ini bisa muncul kapan saja dan apapun yang gue lakukan, gue langsung nulis. 

Jadi lu bisa saja protes, kasi kritik, complain, atau apa lah.
Yang jelas, otak lu nggak nyampe kalo mau disamain dengan otak gue.

                Egois? Lu aja yang berpikir begitu. Gue jarang ngobrol dengan orang tua gue karena gue tahu dari dulu sejak pertama gue bisa berpikir.

Bahwa orang tua gue itu kolot, kampungan dan dibesarkan dengan sistem zaman purbakala. Dan mereka mau nerapin pola pikir mereka sama gue?

Nggak mungkin lah. Gue manusia modern yang beda zaman dengan mereka. Ini bukan perlawanan cuma penolakan aja dari gue.

Bosan gue dengar jejak record mereka yang nggak pernah ngasi contoh sebagai orang tua tapi maunya langsung praktek. Aneh!

                Sepuluh tahun lagi gue bakalan ngapain?

                Gue belum pernah dekat dengan cewek yang bisa membahas masa depan sama gue. Maklumlah karena cewek-cewek yang gue kenal selam ini kata-katanya doing yang banyak di sosial media. 

Giliran pembuktian masih merasa takut sama orang tua mereka. 

Hei, kalian sudah dewasa dan sudah saatnya pemikiran kita tidak dimasuki oleh pihak-pihak yang tidak sependapat dengan kita.

                Itulah budaya di Indonesia dan Sulawesi Selatan yang sudah menjadi tradisi dari dulu, nggak tahu kapan munculnya.

                Orang tua itu berpikir bahwa anaknya harus menikah pada umur 25 tahun.

Dan tujuan lu dekat-dekat sama orang tua lu apa? Mau dijadikan daftar utama warisan? Atau mau dijadikan anak teladan di keluarga yang akhirnya pada saat butuh saja baru lu diladeni?

Giliran lu yang susah mereka hilang? Itu kan yang namanya keluarga? Apalagi teman, sama saja. Dan di tulisan ini, bukan cuma gue yang pernah ngalamin.

Itu karena pada zaman mereka pendidikan itu susah jadi otak mereka nggak kepake buat belajar. Kadang mereka cerita bahwa perjuangan mereka untuk sekolah sangat berat.
Okelah perjuangan gue setuju. Tapi zamannya kan memang sekolah nggak banyak, sosial media belum ada, internet aja nggak pake.

Jangan itu semua listrik saja belum ada di rumah mereka karena cuma orang kaya saja yang punya listrik.

Dan gue lihat-lihat, orang tua gue cuma didoktrin untuk mencari uang tanpa harus mengandalkan otak untuk berpikir.

                Lu pasti pernah juga diminta untuk mendaftar untuk jadi pegawai negeri sipil kan? Salah satu pekerjaan yang paling gue nggak suka di dunia. 

Mendingan gue mati sebagai koruptor uang Negara dari pada harus jadi pegawai negeri sipil. 

Pertanyaannya, mereka bisa apa sih? Mereka itu baru tahu komputer setelah ikut pelatihan. Gue aja lupa kapan gue lancar main komputer dan itu pun berkembang sampai sekarang dalam hidup dan otak gue.

                Hidup itu nggak bakalan rumit kalo pertama lu punya contoh untuk ditiru dan setelah itu lu berkreasi dengan gaya lu sendiri.

Kebanyakan orang susah gerak kan karena itu aja, kekangan dari orang tua yang nggak ngasi contoh sama anaknya tapi mau hasil seperti yang mereka inginkan.

                Gue ingatin ya, anak itu nggak bakalan lahir kalo bukan karena orang tuanya yang minta. Si anak sendiri nggak pernah minta dilahirkan dan  nggak milih tempat dimana dia harus lahir kan?
                Durhaka? Nggak. Lu salah kalo lu bilang pernyataan gue diatas itu bikin sesat dan durhaka. 

Gue malah berpikir, mereka yang durhaka sama gue karena mereka jauh lebih dulu menciptakan robot yang bisa diremote kontrol sebelum robot itu sendiri ditemukan
.
                Memang pada akhirnya kalo lu sudah nggak nemuin jalan keluar, mereka akan bilang “Kan sudah mama-papa bilang kamu harus nurut” kan?

Dan sebenarnya itu bukan penyesalan dan jangan sekali-kali menyesal untuk itu. Karena orang tua itu cuma bisanya ngasi lu kritikan nantinya.

                Urusan diomelin dan ditegur itu gue sudah bosan malah dengarnya. Jadi kalo gue dengar ada orang yang ngeluh atau marah, gue cuma bisa pasang wajah batu aja.

Secara mereka gak tahu apa saja yang sudah gue alami. Dan omelan di keluarga gue jauh gue nggak ngerti dari pada mereka mau ngerti gue.

Gue bukan jelek-jelekin keluarga gue tapi itu adalah salah satu contoh keluarga di Sulawesi Selatan.
Percuma lu bilang cinta sama pacar lu tapi ujung-ujungnya lu mau jaga kehormatan keluarga dengan nurut-nurut perintah orang tua juga.

                Gak pernah ada kata durhaka. Lu harus ingat itu. 

Yang ada itu malah orang tua yang mau dikasi kata terima kasih secara langsung tapi sungkan minta sama anaknya. Dan kebanyakan orang tua membesarkan anaknya dengan KEBOHONGAN.

                Orang tua itu maunya anaknya taat beragama.

Sedangkan mereka sendiri ibadahnya gak jelas?

Hanya tuhan  bagaimana ibadah mereka sebelum lahirin gue?

Wajar saja kalau anaknya sudah besar suka bohong, nggak logis sampai mereka yang temukan sendiri jawabannya.

Dan orang tua itu nggak pernah nyesal, dan nggak pernah mau minta maaf secara langsung sama anaknya kalo mereka salah. Tapi malah menyuruh kita untuk minta maaf kalo kita salah. Lagi-lagi aneh.

                Emang lu pernah lihat nasinya menangis?

Pernah gak lu mukul meja pas kaki atau lutut lu kejedot?

Siapa yang bodoh, meja atau lu yang gak lihat-lihat kalo jalan?

Di sungai itu lu bukannya dilarang buang cabe ke airnya.

Tapi lu diminta jaga kebersihan. Kalo sisa cabe makan lu aja lu buang, pasti sampah yang lain ikut lu buang juga kan?

Disaat kita sebagai manusia modern hidup dengan teknologi, para orang tua justru masih mengira ini zaman mereka yang penuh mitos dan keyakinan-keyakinan gak jelas.

Mereka itu tahunya ngomong hantu tapi nggak pernah lihat secara langsung. Mereka juga takut kan?

Dasar orang tua, kadang aneh juga gue lihat mereka. Kasihan banget.

Orang Indonesia itu memang cerdasnya over. Lu lihat aja kata TUHAN. Kalo dibalik kan suku katanya berobah jadi HANTU. Sekarang, lu pilih takutan mana diantaranya?

Saatnya lu yang berobah sendiri. Gak usah nunggu kapan. 

Dunia nggak menunggu kedatangan lu tapi dunia butuh posisi lu untuk ada.

Gue bukan motivator tapi kalo lu gak berontak dari keadaan, lu sendiri yang bakalan kehilangan momen-momen yang lu impikan selama ini.


Sampai ketemu di tulisan gue yang lain. Pulsa gue gak banyak, hampir habis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar